Udahlah Kawan, Tukang Becak aja Tau Kok Lis Darmansyah yang Peduli Masyarakat Kecil

PRIMETIMES.ID, TANJUNGPINANG-
“Udahlah kawan, tukang becak aja tau kok Lis Darmansyah yang peduli masyarakat kecil,” ujar Lambok (26 thn) kepada 3 temannya sesama penyuka ML (mobile legend) itu di Kedai Kopi Barokah, Bintan Centre, Kota Tanjungpinang, Sabtu (12/10/2024).
Sembari menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin, Lambok meneruskan celotehnya.
“Kau dengar dulu, Cok. Kemarin ada kawanku wartawan mewawancara tukang becak di pelantar sana. Tukang becak itu terus terang mengakui kalo Bang Lis yang peduli orang kecil. Jadi gak usah banyak cengkunek lah. Lis-Raja itu udah pas jadi pilihan kita di Pilkada ini,” ujar Lambok dengan nada berapi-api, mirip koordinator demo sedang orasi.
Temannya yang lain, Sibalessem (25 thn), pura-pura tak mendengar celoteh-celoteh Lambok. Ia menyibukkan diri dengan gadget made in Chinanya, nonton cuplikan pertandingan Timnas Indonesia VS Bahrain yang sedikit menyakitkan.
“Iya lah, Lae. Mentang-mentang lae dekat sama banyak wartawan, gitu kali lae. Langsung sok-sok ngomongin politik nya, Lae,” kata Sibalessem menimpali dengan logat khasnya. Tak tahan juga dia harus menahan-nahan komentarnya.
“Bukan gitu, Lae. Ini harus ku sampaikan. Sekarang kan lagi tahapan pilkada Kota Tanjungpinang. Jadi kita harus ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini. Kita pilih calon pemimpin yang terbaik, berpengalaman, punya koneksi luas dengan investor dan pusat, juga harus dekat dan peduli dengan masyarakat kecil. Nah, Bang Lis memenuhi kriteria itu,” ujar Lambok yang mendadak mirip pengamat politik yang sering muncul di tv.
Mendengar penjelasan Lambok yang panjang tapi tak cukup lebar, Sibalessem pun agak tertarik. Sembari mem pause tontonannya di Youtube, ia pun menimpali.
“Jadi fix ke Lis kita ini, Lae?” tanya Sibalessem.
Lambok menjawab sembari tersenyum. “Iyalah. Mana mau aku mardua holong? Tak kek gitu aku bah,” ujarnya.
Sibalessem pun berpikir sejenak sembari mengaduk-aduk kopinya yang tinggal sekali seruput itu. Dalam hatinya, benar juga yang disampaikan Lambok.
Sejurus kemudian Sibalessem beranjak dari kursinya. Berjalan gontai menuju kasir kedai, membayar minuman mereka.
“Aku duluan ya Lae. Suntuk kali bah. Lagian udah mau hujan juga nih,” katanya.
“Bah, kok suntuk lae?” kata Lambok.
Sibalessem mengeryitkan dahi. Tak menjawab Lambok. Ia lagi-lagi berjalan gontai ke parkiran. Di mana teman sejatinya menunggu dengan setia, si kuda besi buatan Jepang 150 CC.
Tinggallah Lambok dan dua orang temannya yang lain, Ingot dan Sumurung.
“Lae Sibalessem itu suntuk karena wasit yang mimpin pertandingan Indonesia VS Bahrain kemaren, Lae. Aku pun sebenarnya jengkel liat wasit itu. Sirabun juga dia itu,” ujar Ingot.
Ketiga pria yang diketahui sepakat untuk menjomblo itu pun tertawa bareng, sembari sesekali menghisap rokok tak bercukai, dan mengepulkan asapnya ke udara. Mirip gaya tokoh Tuan Takur di film India.
Sementara di ufuk barat, dari balik awan, mentari mengintip malu-malu. Menambah indahnya sore di Kota Gurindam, Tanjungpinang.
(BUNG MANURUNG)



