Opini

Pelukan Hangat Ganjar Untuk Difabel

Oleh: Sobar Harahap
Setiap 3 Desember kita memperingati Hari Disabilitas Internasional. Tapi sebelum membahas lebih jauh, sudah tahukah kita bagaimana sejarah lahirnya peringatan kemanusiaan ini?

Hari Disabilitas Internasional dicetuskan oleh Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1992. Tujuan pencetusan itu tidak lain dan tidak bukan untuk menumbuhkan kesadaran terkait masalah yang dihadapi penyandang disabilitas dalam setiap aspek kehidupan baik politik, sosial, ekonomi dan budaya seperti mengakhiri diskriminasi dan menciptakan kesempatan yang sama untuk mereka.

Convention on the Right of Person with Disability (CRPD) atau Konvensi Hak Penyandang Disabilitas kemudian diadopsi pada tahun 2006. CRDP fokus dalam mengedepankan hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas sebagai implementasi agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan dalam kerangka pembangunan internasional lainnya.

Berbicara mengenai Hari Disabilitas Internasional, saya jadi teringat dengan salah satu sosok yang ngopeni dan ngerteni para penyandang disabilitas. Iya, sosok itu adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Banyak kisah yang sudah Ganjar ukir dan lewati bersama penyandang disabilitas.

Sebelumnya saya ingin bertanya, apa di antara pembaca sekalian masih ingat dengan Program Sehari Bersama Gubernur yang diusung Ganjar? Jika iya pastilah Anda sekalian tahu apa yang Ganjar lakukan. Saat itu, Ganjar mengajak lima orang penyandang disabilitas ikut mendampingi dirinya untuk melihat kegiatan yang dilakukan gubernur.

Kelima orang itu yakni Didik Sugiyanti, Wiyono, Fawas, Melati dan Ariel. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah mereka selama ikut mendampingi orang nomor satu di Jawa Tengah ini. Para penyandang disabilitas baik dari tuna daksa, tuna rungu dan tuna wicara itu juga sempat curhat dan bersenda gurau bersama. Kemudian juga tak lepas menyampaikan aspirasi mereka.

Tak hanya itu, pemandangan langka juga terjadi pada momen tersebut. Ganjar benar-benar ngopeni dan ngerteni dengan selalu membantu mendorong bahkan mengangkat kursi roda yang dinaiki salah satu penyandang disabilitas. Salah satu contohnya ketika makan siang, Ganjar dengan wajah tersenyum mengangkat kursi roda dari penyandang disabilitas karena rumah makan itu memiliki tangga cukup tinggi.

Kecintaan dan ketulusan Ganjar ngopeni penyandang disabilitas juga terbukti ketika pria berambut putih ini tiba-tiba dipeluk oleh anak disabilitas saat kegiatan Tour De Borobudur (TDB) 2022. Momen itu lekat dalam ingatan masyarakat, saat Martin, seorang penyandang disabilitas asal Bandung sedang sibuk menggambar dan tak sadar dengan kehadiran Ganjar. Tapi setelah tahu, Martin sontak melompat dan berteriak kegirangan seraya memeluk Ganjar.

Di tengah keterbatasan fisik yang dialami, mereka juga memiliki harapan dan kebahagiaan yang ingin diraih. Karena bagi Ganjar, perbedaan yang sejati itu bukan dari fisik melainkan kemampuan atau skill yang dimiliki. Itulah yang terpenting, skill akan memberi tahu siapa diri kita.

Keberpihakan Ganjar terhadap penyandang disabilitas bukan omong kosong belaka. Pria kelahiran 28 Oktober 1968 itu bahkan meraih penghargaan tiga kali berturut-turut sebagai pembina pemenuhan hak disabilitas di dunia kerja I
inklusif. Hal itu karena Ganjar mampu memberi ruang bagi penyandang disabilitas dengan pemihakan pada sisi regulasi, hingga penganggaran APBD untuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) Provinsi Jawa Tengah.

Capaian Ganjar itu sesuai dengan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, yang menyebutkan jika perusahaan harus mempekerjakan disabilitas paling tidak satu persen. Dan hingga Oktober 2022, di Jawa Tengah sudah ada 216 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja difabel mencapai 2.057 orang.

Tentu dari sini kita bisa memahami, jika Ganjar ini memang layak diberikan predikat pemimpin daerah yang tulus, dekat dengat rakyat, dan selalu berkomitmen menuntaskan masalah yang dihadapi rakyat. Pada contoh yang penulis jabarkan di atas, Ganjar seolah ingin menunjukkan jika semua orang memiliki hak sama dalam kehidupan.

Ganjar memang selalu memilih jalan kepemimpinan yang mengayomi dan menginspirasi. Kepeduliaan itu tampaknya sudah melekat karena berakar pada pengalaman hidup Ganjar yang merangkak dari bawah dan kerap dirundung kesusahan. Hal itu sebagaimana nama asli orang nomor satu di Jawa Tengah ini yaitu Sungkowo, yang berarti kesedihan.

Pemilik slogan Tuanku Ya Rakyat, Gubernur Cuma Mandat ini memang paham betul bagaimana perasaan rakyat. Ganjar bukan pemimpin yang secara radikal memainkan isu sensitivitas agama, bukan juga pemimpin angkuh yang sangat sulit untuk ditemui. Ganjar sepertinya tahu, dengan dekat dan mengobrol dengan rakyat, dari situ suatu permasalahan menjadi jelas, dan solusi yang dihadirkan pun tak menjadi bumerang bagi rakyat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker