Seperti Jogja, Ganjar Memang Istimewa
Oleh: Sobar Harahap
Tuas Kopling motor vespaku patah sekitar 200 meter dari seputaran Tugu Yogyakarta. Terpaksa aku dorong untuk cari bengkel terdekat. Di situ aku melihat banyak orang sudah berkumpul menggelar pertunjukkan.
Rencanaku sebetulnya mau cari makan dan cukur rambut. Aku keluar kos dengan harapan hari Minggu ini berwarna ceria dengan potongan rambut baru. Paling tidak ada perubahan kecil lah dalam hidupku, yang berujung jadi perubahan besar.
Tapi motorku kena sial. Asal kau tahu, mendorong besi tua ini rasanya persis seperti menanggung warisan utang keluarga. Berat, tapi harus dihadapi. Aku pun sejenak beristirahat dulu di salah satu kios rokok sambil berencana menelpon teman.
Sambil menunggu, iseng aku mengamati acara di Tugu. Menonton orang-orang yang ada di sana. Mereka berpakaian adat tradisi, ada juga yang membawa tombak.
“Mereka itu kelompok Masyarakat Tradisi Yogyakarta, yang terdiri dari sedulur abdi dalem dan pasukan pengawal,” ujar penjual rokok tiba-tiba, seperti bisa membaca rasa penasaranku.
Kulihat orangnya, ia seorang pria berusia sekitar 50 tahun yang keliatan ramah. Selama lima tahun tinggal di Jogja, aku memang tidak pernah meragukan keramahan orang-orangnya. Mereka misalnya tidak pernah memberikan informasi yang menyesatkan saat kau bertanya soal alamat, bahkan mereka akan menjawabnya dengan spesifik sambil tersenyum. Itu satu hal yang tidak mudah kutemukan di kota lain.
“Terus apa yang sedang mereka lakukan?”
“Mereka memperingati Dasawarsa Yogyakarta Istimewa, sambil mendoakan Pak Ganjar jadi pemimpin negeri ini.”
“Apa kaitannya dengan Gubernur Jateng itu?”
“Lho adek belum tahu toh? Pak Ganjar kan ikut berjasa mempertahankan keistimewaan Yogyakarta, beliau terus berjuang, sampai akhirnya disahkan undang-undang tentang keistimewaan Yogyakarta tahun 2012.”
Sialan, sebagai mahasiswa semester sepuluh, rasanya aku seperti tertampar. Aku benar-benar gagap soal kiprah Ganjar yang satu ini. Setahuku Ganjar memang gubernur yang sudah menggratiskan biaya pendidikan. Dan punya program Lapak Ganjar. Cuma sebatas itu pengetahuanku soal Ganjar.
“Mungkin adek orang pendatang, kalau penduduk asli sini kebayakan pasti ingat momen itu. Saya tanggalnya juga masih hapal kok, 31 Agustus 2012,” katanya.
Jadi begini. Meski keistimewaan Yogyakarta sudah melekat sejak pertama bergabung dengan Indonesia paska kemerdekaan, belum ada payung hukum yang secara khusus mengatur aktivitas itu. Banyak kelompok masyarakat yang kemudian berjuang untuk mendapatkannya, dan Ganjar yang ada di DPR waktu itu, mendengar aspirasi tersebut.
“Orang Yogja sudah pasti nggak bakal melupakan Pak Ganjar. Beliau sudah punya tempat khusus bagi masyarakat Yogja.”
Bisa jadi penjual rokok ini salah satu penggemar Ganjar. Tentu aku nggak percaya begitu saja. Saat itu aku iseng cek google dengan kata kunci Ganjar Yogyakarta. Dan ternyata memang banyak sekali kelompok masyarakat Yogja yang menyerukan deklarasi dukungan untuk Ganjar. Mereka datang dari segala usia dan berbagai macam profesi.
Misalnya Orang Muda Ganjar yang berasal dari kelompok pemuda, Mak Ganjar yang berisi ratusan ibu-ibu, para santri, sampai-sampai paguyuban sepeda ontel juga tak mau ketinggalan ikut menyerukan dukungan mereka. Dan masih ada yang lainnya. Bahkan kalau dihitung dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, ada lebih sepuluh kelompok yang deklarasi.
Pada tahap itu, aku jadi bisa memahami kecintaan mereka pada sosok Ganjar. Seperti Yogja yang istimewa, Ganjar pasti juga istimewa di mata warga Yogja.
Itu sebenarnya hubungan yang masuk akal. Sama seperti sebuah pertemanan. Jika ada kawan yang baik, yang mau membantu di saat aku sedang kesulitan, aku juga tidak bakal melupakan kepedulian orang itu. Misalnya kawanku yang sedang dalam perjalanan kesini untuk menolong di saat vespaku rusak. Ini kelihatan sepele, tapi tentu punya arti besar dalam hidupku.
Mungkin saja masing-masing kelompok punya alasan lain yang lebih subjektif kenapa lebih memilih mendukung Ganjar ketimbang yang lain. Tapi satu hal yang pasti, pergerakan semacam ini tak mungkin lahir tanpa adanya kesadaran untuk menentukan pemimpin terbaik.
“Pak, saya bisa numpang ke toilet?” Aku terpaksa meminta ijin, karena sudah kadung kebelet.
“Oh monggo, silakan, Dik, sandalnya dipakai saja.”
Yogyakarta, aku tidak punya hubungan khusus dengan kota ini. Aku cuma perantau. Tapi pasti aku akan amat sulit meninggalkan, apalagi melupakan orang-orangnya.



