Ganjar Dan Kisah-Kisah Dari Desa
Oleh: Sobar Harahap
Dulu jarang orang mengenal Girpasang, apalagi mau berkunjung. Lokasinya yang terpencil, sekaligus terpisah jurang curam di kaki Gunung Bibi, membuat kawasan ini sulit dilirik orang. Untuk sampai ke sana kita bahkan harus berjalan kaki melewati bebukitan terjal.
Tapi rupanya Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo berpikir sebaliknya. Ia justru melihatnya sebagai potensi yang perlu diperlihatkan ke banyak khalayak.
Sekitar dua tahun lalu Ganjar bertandang ke dusun Girpasang di Desa Tlogomulyo, Klaten ini. Saat itu ia hendak mengantar daging kurban ke masyarakat Girpasang. Ia harus mendaki belasan kilometer untuk sampai ke permukiman penduduk. Namun pemandangan alam yang tampak di hadapannya, dalam sekejap seperti mampu menanggalkan rasa letihnya.
Ganjar segera meminta Kades setempat merealisasikan keinginannya untuk mengubah kawasan ini jadi destinasi wisata.
Sekarang Girpasang menjelma menjadi lokasi wisata favorit. Kawasan ini telah dibenahi dan ditata. Pengelola menyediakan gondola yang melayang setinggi 150 meter untuk sampai ke permukiman. Jembatan gantung juga disediakan sebagai alternatif. Wahana lain mulai dibuka. Kedai-kedai kopi modern kian menjamur. Dalam sebulan, Girpasang pun mudah mengantongi pendapatan Rp. 75 juta dari pengunjung.
Keseriusan Ganjar dalam mengembangkan desa sebenarnya sudah terlihat dari dulu. Terlebih soal pariwisata. Setiap tahun kucuran anggaran pengembangan desa wisata terus digulirkan. Untuk tahun 2022 saja, Pemprov Jateng menganggarkan Rp. 18 milyar untuk 131 desa.
Dengan wisata, desa yang tadinya lesu jadi bergairah. Peluang usaha makin menggeliat. Perekonomian terus melaju. Tentu bukan cuma Girpasang di Tlogomulyo saja, banyak desa lain yang tumbuh karena kebijakan yang dilahirkan Ganjar. Misalnya Desa Kemuning di Karanganyar, Desa Ponggok yang juga berada di Klaten, ataupun Desa Nyalembeng di Pemalang, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Melihat keberhasilan-keberhasilan itu, wajar jika sekarang banyak kepala desa dari luar provinsi yang datang menemui Ganjar untuk menimba ilmu serta pengalamannya.
Seperti puluhan Kepala Desa dari Kabupaten Dompu, NTB ini. Mereka sengaja datang langsung menemui Ganjar ke rumah dinasnya di Semarang. Tak peduli harus melewati perjalanan panjang, sebab ketertarikan mereka terhadap prestasi Gubernur Jateng sudah kadung membuncah.
“Maka kemudian kami datang untuk studi banding, sekaligus kami juga ingin mengundang Pak Ganjar ke desa di lereng Gunung Tambora, sehingga bisa jadi nilai tambah buat kami,” ujar Saifudin Zufri, Kepala Desa Calabai, Kecamatan Pekat, Dompu, yang siang itu turut datang menemui Ganjar, seperti dikutip kompas.com.
Ganjar memang punya segudang pengalaman menata desa. Kita tahu ia turut andil melahirkan Undang-Undang Desa saat masih duduk sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR-RI.
Bersama Kagama, Ganjar juga melahirkan Desa Inklusif, yang mengajak seluruh masyarakat aktif berpartisipasi dan memandang perbedaan dengan cara positif. Dan kini, sebagai pemimpin, dedikasi Ganjar pada desa pun terus dibuktikannya.
Saya teringat nasihat Iwan Fals dalam salah satu lagunya berjudul Desa. Ia menyebut: “Desa harus jadi kekuatan ekonomi, agar warganya tak hijrah ke kota.”
Kini, dengan wisata yang terus digalakkan Ganjar, warga sibuk mengembangkan setiap potensi yang ada di desanya. Seperti masyarakat di Girpasang dan Kemuning itu misalnya, sekarang nyaris tidak ada warganya menganggur. Semua saling sengkuyung memajukan pariwisata, mereka bisa turut menyediakan fasilitas, membuka wahana-wahana baru untuk pengunjung, ataupun menjajakan produk UMKM.
Jangankan keinginan pergi merantau, cari pekerjaan lain pun mungkin sudah tidak lagi terpikirkan. Mereka bukan hanya mandiri, namun taraf hidupnya juga bisa dibilang meningkat.
Desa tak lain adalah denyut nadi sebuah negara. Dengan membangun desa, artinya Ganjar telah menjadikan negara ini makin kokoh dan tangguh.



