Blusukan Medsos Ganjar
Oleh: Sobar Harahap
Suatu hari seorang pemuda di salah satu daerah di Jateng harus dibuat geram karena sampah. Hampir setiap saat dalam perjalanannya ke tempat kerja, ia mesti bertempur dengan bau busuk akibat tumpukan sampah yang berceceran di pinggir jalan.
Sampah itu bertebaran di tepi jalan, sampai-sampai parfum yang ia kenakan tak berfungsi lagi akibat bau menyengat. Belum lagi saat hujan, sampah plastiknya bisa sangat membahayakan. Motor Vega-R yang dia kendarai pernah nyaris terpeleset saat melintasinya.
Tak kuat menahan semua itu lebih lama lagi, ia akhirnya memotret tumpukan sampah dan mengadukannya langsung ke Twiter pribadi Ganjar Pranowo. Tak disangka tak diduga, aduannya langsung direspon.
Keesokan harinya, pemuda itu melihat semua pimpinan maupun staf Dinas Lingkungan Hidup setempat dibuat lembur seharian untuk sekedar menguras sampah. Mereka kemudian juga memasang pagar dan poster larangan buang sampah di tepi jalan tersebut.
Cerita itu hanyalah salah satu contoh kecil bagaimana Ganjar sigap merespon aduan warganya. Laporan dan aduan itu memang bermacam-macam, kadang ditulis di kolom komentar. Dan dengan jari tangannya sendiri, Ganjar menanggapi aduan itu satu persatu.
Amir Machmud dalam catatan pengantarnya di buku “Kotroversi Ganjar” menyebut, kepemimpinan Ganjar Pranowo adalah sebuah dekontruksi. Artinya Ganjar seorang pembaru yang mengubah tatanan biokrasi Jateng yang sebelumnya alot, berbelit-belit, dan sarat korupsi menjadi lebih cepat dan transparan.
Dengan gaya kepemimpinan yang kasual, tegas, smart, muda, dia dipandang punya energi untuk memberikan apa yang belum didapatkan provinsi ini.
Buku itu terbit 2015 atau dua tahun kepemimpinan Ganjar di Jateng. Dan sekarang, pada 2022, setelah dua periode kepemimpinannya, performa Ganjar sama sekali tidak menurun.
Kebaruan itu sekarang bisa kita lihat salah satunya bagaimana Ganjar menggunakan medsos. Bagi Ganjar, medsos bukan sekedar ruang memajang pencapaian maupun aktivitas kerjanya, namun telah menjadi bagian dari pekerjaan itu sendiri.
Ganjar memandang medsos sebagai sarana blusukan di era modern. Sebab dari sana, ia mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi warganya di seluruh penjuru Jateng.
Tak hanya itu saja, Ganjar juga memanfaatkan medsos sebagai sarana promosi, baik produk UMKM maupun pariwisata yang ada di Jateng.
Gubernur lain seperti Anies Baswedan misalnya, mungkin pernah mempromosikan produk milik warganya. Tapi intensitasnya pasti lah tak sesering Ganjar. Anies sebulan sekali belum tentu, sedangkan Ganjar sudah pasti setiap minggu.
Ganjar menyediakan wadah khusus bernama Lapak Ganjar di Instagramnya, yang mana setiap minggu ia mempromosikan usaha para pelaku UMKM. Baik soal makanan minuman, pakaian, sampai jasa loundy dan reparasi elektronik. Bahkan cucian motor pun ikut dipromosikan.
Banyak yang merasakan manfaat Lapak Ganjar ini. Penjual senang karena usahanya dipromosikan. Konsumen pun lebih mudah mendapatkan informasi tentang apa yang mereka butuhkan.
Gagasan bermanfaat semacam ini tak mungkin lahir jika Ganjar gagap dalam memahami keinginan dan harapan rakyat kecil. Kenyataannya dia paham betul apa yang dibutuhkan masyarakat.
Tempat-tempat wisata juga demikian. Entah sudah berapa ratus kali Ganjar menggunggah lokasi wisata menarik di Jateng. Sampai-sampai istri saya pun ikut kepincut saat Ganjar memposting sawah bergambar di desa wisata Bergas Lor Kabupaten Semarang.
Karena pendampingan yang serius dilakukan Ganjar, tempat-tempat wisata itu jadi menggeliat dan makin maju. Salah satu contoh lain adalah wisata di Desa Girpasang, Kabupaten Klaten. Setiap minggu paling tidak ada 1000 orang yang berwisata ke Desa Girpasang untuk mencoba keseruan wahana sambil menikmati keasrian alamnya.
Kini pendapatan wisata di Girpasang mencapai Rp. 75 juga perbulan. Banyak pengunjung yang datang kesana setelah melihat pontingan medsos Ganjar Pranowo. Nah!



