Nusantara

Akhir Tahun 2019 & Sambut Tahun Baru 2020, Ini Pesan-Pesan Pdt Maston Hutasoit

PRIMETIMES.ID, BAGAN SIAPI-API,
Beberapa jam lagi kita akan meninggalkan tahun 2019. Dan sebuah tahun yang baru akan kita masuki. Dalam moment special ini, Pendeta HKBP Ressort Bagansiapi-api, Distrik XXX, Riau Pesisir, Riau, Pdt Maston Hutasoit pun memberi pesan-pesan khusus kepada para jemaatnya.

“Ada tradisi yang selalu kita rayakan dalam keluarga kita masing-masing, yaitu dengan menyampaikan permohonan maaf dan tekad yang dituju dalam even 00.00 itu,” ujarnya, Selasa, (31/12/2019).

Tetapi sebelum kita memasuki tahun 2020 itu, lanjutnya, perlu kita merenungkan perjalanan kita di tahun 2019. Bila dirunut kembali sejak tanggal 1 Januari hingga 31 Desember, berbagai peristiwa dan kejadian kita lalui.

“Apakah itu berhubungan langsung dengan keberadaan kita sebagai individu, anggota masyarakat atau sebagai warga negara. Salah satu bagian penting yang kita lalui adalah tahun politik. Pemilihan Presiden/Wakil Presiden, dengan Dewan Perwakilan Rakyat tingkat Kabupatan/Kota, Tingkat I dan DPR RI. Terutama yang menjadi catatan penting adalah pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Proses dan saat pemilihan serta pasca keputusan KPU tenyata belum cukup menyudahi ‘keterbelahan’ masyarakat kita,” katanya.

Persidangan di Mahkamah Konstitusi, ujarnya, menambah ketegangan baru. Bagi presiden terpilih sesuai pengumuman KPU ini menjadi ujian tersendiri yang berat apabila Mahkamah Konstitusi memberi hasil yang berbeda dari keputusan KPU. Sebaliknya bagi kubu yang kalah versi KPU, Mahkamah Konstitusi menjadi ‘pertempuran akhir’ yang harus dimenangkan.

Menurutnya, proses persidangan sangat panjang hingga menjelang pagi hari. Hasil akhir, keputusan bulat menolak gugatan kubu yang kalah. Jokowi dikuatkan menjadi presiden terpilih.

Penatalayanan Gereja

Sementara itu kondisi pelayanan makro gereja dan lokal, menurut Pdt Maston, diperhadapkan pada tantangan riil yakni meningkatnya tuntutan pelayanan yang semakin berkualitas dari warga jemaat kita. Pdt Maston menilai, tumbuhnya kesadaran baru seperti itu didorong oleh perjumpaan warga jemaat kita dengan tak sedikit di dalam komunitas kristiani lainnya, termasuk juga bentuk-bentuk baru perjumpaan dengan tradisi-tradisi gereja baru yang atraktif dan menawan mereka.

“Mereka tetap beribadah di gerejanya masing-masing, namun setelahnya pergi ke kebaktian gereja lainnya tersebut. sehingga acap kali membuat perbandingan dengan gereja asalnya,” tambahnya.

“Sebagai gereja arus utama dan sebagai pimpinan gereja kita tak perlu meresponnya secara reaktif, melainkan dengan sikap terbuka mempelajari dengan baik, agar mampu mencari berbagai pendekatan baru yang mampu memberi jawaban atas tantangan baru tersebut,” terangnya.

Tantangan kontemporer pelayanan terhadap Generasi Milineal kemungkinan akan lebih jauh menyita perhatian kita, kata Pdt Maston.

“Selain kompleks juga berubah dengan cepat. Dewan Gereja-gereja, baik internasional, regional maupun lokal, secara komprehensif dari berbagai perspektif dalam memberi gambaran yang lebih utuh dan lengkap. Dan disadari betul upaya itu sangat perlu sekali untuk membantu, utamanya para pelayan sebagai pemimpin umat, bagaimana mempersiapkan diri dengan baik menghadapi era digitalisasi, era Revolusi Industri 4.0,” tandasnya.

Maka dari itu juga, lanjutnya, gereja sebagai Tubuh Kristus menjadi sahabat bagi sesama manusia, sangat diharapkan untuk saling menopang, mendukung dan bekerjasama dalam menyebarkan Firman Tuhan dalam era ini. Walau banyak sindiran dari mimbar kepercayaan lain, kita tidak goyah karena nya.

“Kita tidak perlu demonstrasi berjilid-jilid. Bahkan kita mengimani dengan kokoh, supaya saling mengasihi & mengampuni. Sekali lagi, marilah kita pengikut Kristus yang setia, saling membangun dan melengkapi. Mari jauhkan egoisme, merasa benar atau sok suci, menjelekkan, dan lain sebagainya,” tegasnya.

“Mari membawa hal-hal yang baik untuk kebersamaan kita, umat Tuhan yang terkasih!
Di akhir tahun ini, pada saat kita berdiri persis di penghujung 2019,” katanya.

Kini, detik-detik menyongsong era baru, Tahun 2020, dengan perasaan hati yang bercampur aduk, antara rasa syukur dan kuatir, mau tak mau kita harus songsong tahun baru 2020 yang kini menunggu di depan mata, ujar Pendeta yang pernah melayani di HKBP Kampung Baru, Tanjungpinang ini.

Dengan sepenuhnya kita percaya Allah itu Immanuel, lanjutnya, Dia akan menyertai kita bahkan di tengah-tengah ketidakpastian, bersama Tuhan kita akan dituntun oleh kasih dan penyertaanNya.

“Sambut Tahun Baru 2020 dengan Ceria. Beberapa jam lagi tepat pukul 12.00 malam, tahun 2019 akan berlalu. Mari bersama menyambut tahun baru dengan ceria. Tidak akan pernah melewatkan untuk menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru. Semoga bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dari pada tahun sebelumnya,” katanya.

“Masa lalu adalah kenangan dan masa depan adalah harapan. Pada penghujung tahun ini, kami sekeluarga menyampaikan permohonan maaf demi suci dan cerahnya di tahun yang baru ini. Hapus segala kesedihan yang mungkin pernah diperbuat di masa lalu. Di akhir kata, ucapan Selamat Tahun Baru 2020 ini kami sampaikan semoga segala yang dicita-citakan tercapai. Tuhan memberkati,” pungkasnya.

(BUNG MANURUNG)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker