Risma Memulung Bersama Lenny, “Teman” Setianya
Jalanan terlihat sedikit lengang di bilangan Batam Kota. Matahari tepat di atas kepala di siang pertengahan Januari lalu. Sinarnya tampak begitu angkuh. Panasnya menggigit, menembus kulit.
Mata saya tertuju pada seorang perempuan berkaos merah. Ia clingak-clinguk di antara tong sampah depan ruko jalan itu. Seekor anjing betina berwarna coklat muda nampak menemaninya.
Anjing itu duduk tenang di bawah gerobak. Tuannya seorang perempuan berkaos merah itu tampak sibuk mencari barang rongsokan.
Saya berhenti. Mengamati dari kejauhan. Melihat perempuan pemulung itu bersama anjingnya.
“Bu..ibu..kemari. Ini ambil besi bekas buat ibu,” panggil seorang Kokoh paruh baya. Ia pemilik ruko di depan penjual burung.
Perempuan pemulung itu menghentikan langkahnya. Ia menepikan gerobaknya. Ia berbalik. Terdengar suara gembira membuncah dari balik masker biru tua yang menutup mulutnya.
“Terimakasih, Koh..Terimakasih,” balasnya pelan.
Perempuan itu bergegas mengambil besi bekas teralis pemberian laki-laki itu. Ada dua keping besi panjang. Perempuan itu meletakkan dua keping besi itu di atas gerobaknya.
Karung goni berisi botol-botol plastik air mineral ditaruh di atas besi itu. Anjing betinanya tampak leyeh-leyeh duduk berlindung di bawah gerobak. Sepertinya anjing itu kepanasan. Kehausan.
“Bu..ibu..sebentar bu…,” panggil saya usai perempuan itu mengemas barang bekas itu. Ia berbalik mau pulang.
Saya memintanya menepi sekitar 5 ruko jauhnya. Saya penasaran dengan si ibu dan anjingnya. Jarang saya melihat pemulung pergi memulung dengan anjingnya. Biasanya dengan anaknya. Kadang saya melihat ada pemulung digendong di belakang ibunya. Kadang anaknya ikut berjalan mengekor di belakang ibunya.
“Nama saya Risma Marpaung, Pak…Ini Lenny, anjing saya. Ada empat anjing saya. Tapi Lenny kalo gak diajak dia suka lasak. Bikin gaduh di rumah,” ujar Risma.
Risma mulai merantau ke Batam sekitar tahun 2001. Ia meninggalkan kampung halamannya Sidikalang, Sumut. Ia merantau sejak tamat SMA. Di Batam, Risma bekerja di sebuah perusahaan asing. Sebagai operator produksi. Seiring usianya yang menanjak, kontrak kerjanya tidak diperpanjang lagi.
Risma tidak punya pilihan pekerjaan lain. Untuk bertahan hidup ia memulung barang bekas. Ia masih lajang. Tinggal di sebuah daerah pemukiman rumah liar bersama empat anjingnya.
Setiap hari ia mencari barang bekas di seputaran komplek perumahan penduduk. Jika dapat rezeki, bisa dapat 50 ribu. Tapi jika tidak paling hanya mendapat 20 sampai 30 ribu rupiah.
Bulan Maret 2020 lalu, Risma sebenarnya sudah diterima di sebuah pabrik. Tapi Pandemi Covid 19 membuat pabriknya tutup. Risma kembali memulung sampai hari ini.
“Bu Risma..Andai saya bisa bantu, pekerjaan apa yang ibu harapkan?” tanya saya.
“Kalo bisa saya bekerja di perusahaan lagi, Pak. Jadi operator apa saja,” ujarnya sumringah.
“Baik, Bu..Saya usahakan ya. Ini ada sedikit duit buat ibu ya,” balas saya sambil menyalamkan sedikit rezeki ke tangannya.
Bu Risma senang sekali. Matanya berbinar-binar. Meski tertutup masker, saya melihat ujung matanya menyipit. Ia tersenyum senang.
“Lho ibu mau kemana?” tanya saya saat berpisah.
Risma tampak berjalan meninggalkan gerobak dan anjingnya di ruko itu.
“Mau beli beras, Pak..Sudah habis beras di rumah,” balasnya sambil berjalan menuju pasar basah tidak jauh dari sana.
Saya memandang punggungnya yang semakin jauh meninggalkan saya dan anjingnya.
Risma belanja beras dan lauk. Untuk makan siangnya dan keempat ekor anjing yang menunggunya di gubuk kecilnya.
Hidup ini memang tidak mudah. Keras. Tapi ketika cinta masih ada, maka cinta itu akan mengalahkan ketidakmudahan itu. Seperti Risma kepada anjing setianya itu.
Tetap kuat dan tabah, Bu Risma Marpaung..God bless you..
“Selamat Hari Perempuan se- Dunia.”
(Birgaldo Sinaga)



