Kampus

Masih Pentingkah Pendidikan Bagi Mereka ?

Christina (F-Ist)

Oleh: Christina Ompusunggu        (Mahasiswa Jurusan Ilmu Adm. Negara)

Peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei menjadi moment berharga bagi kemajuan dunia pendidikan kita saat ini. Bagaimana tidak? Hari besar ini telah menjadi bahan evaluasi kemajuan pendidikan di di kalangan pemerintah dan instusi pendidik.

Namun pada peringatan Hardiknas ini, masih banyak masyarakat yang salah mengartikan tentang makna pendidikan itu sendiri. Bagi kita yang menjawab 2 Mei adalah hari pendidikan nasional, penting bagi kita untuk memahami secara benar arti pendidikan yang sesungguhnya.

Sementara amanat undang-undang nomor 20 pasal 3 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensial peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Pendidikan tidak hanya bicara tentang ilmu pengetahuan yang mampu menambah wawasan kita secara luas, namun hal terpenting juga menggarisbawahi jelas arti pendidikan dalam sebuah pembangunan karakter, moral, pendewasaan diri dan sebagainya. 

Kedua hal ini menjadi modal utama bagi anak bangsa untuk mampu mengembangkan dirinya menjadi generasi berkepribadian unggul dalam nasional maupun kancah dunia.

Pentingnya pendidikan akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa ini, dimulai dari berdampak bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar kita. Pendidikan mampu berdampak dari segi soft skill dan hard skill, keduanya mampu kita peroleh dari pendidikan di lingkungan sekitar kita. 

Semakin tinggi tingkat kesadaran tersebut, kita akan melihat banyaknya peluang untuk selalu berinovasi dalam segala aspek kehidupan kita.

Kita sadari di sekitar kita masih banyak diantara mereka yang tidak seberuntung untuk dapat menikmati pendidikan dengan baik. Seperti anak-anak yang tidak dapat bersekolah dengan keterbatasan biaya, mereka yang putus sekolah karena harus bekerja untuk menghidupi kebutuhan hidup. 

Bahkan di usia yang masih sangat remaja dan muda, pengenalan mereka akan pendidikan jauh tertinggal, bahkan beberapa diantaranya yang tidak ingin melanjutkan sekolahnya lagi.

“Malas juga, sebab kawan-kawan yang jualan Koran semua ini ada satu  yang orang tuanya tidak ada lagi, yang kedua tidak sekolah karena tidak ada biaya, yang ketiganya itu paket”. Ujar Opet saat ditanya mengapa putus sekolah.

“Gak ada”. Jawab laki-laki bernama Opet itu sambil melipat-lipat kecil Koran di tangannya. Jawabannya  sangat lugas saat ditanya mengenai niatnya untuk melanjutkan sekolahnya lagi atau tidak. 

Beberapa kali dijawabnya tidak tahu mengenai pentingnya pendidikan baginya, bagaimana perasaannya selama 3 tahun bersekolah dan mengenai masa depannya apakah akan berjualan Koran terus, namun tegas Opet bahwa pemikirannya untuk langsung mencari kerja saja di umur 17 tahun.

Opet bersama beberapa temannya, yang sempat merasakan sekolah dasar selama kurang lebih 5 tahun, baginya sekolah menyenangkan, tetapi melihat Ibunya susah, kurang baju sekolah, untuk makan harian membayar kos susah kini membuatnya sudah tidak bersekolah lagi, Ibunya dan gurunya menyuruh untuk bersekolah, namun jawaban tidak mau begitu pasti terucap. 

Dani, laki-laki yang bercita-cita menjadi seorang tentara, ia putus sekolah sejak 1 tahun meninggalnya Ayahnya. Namun tetap pada kegigihannya untuk berjualan koran bersama teman-temannya, dan harapan dalam diri mereka agar secepatnya mendapatkan pekerjaan untuk kembali melanjutkan sekolahnya.

Pendidikan untuk semakin mencerdaskan kehidupan anak bangsa dapat ditempuh dengan banyak cara, dengan memberikan perhatian bagi mereka yang mungkin sudah tidak berfikir lagi untuk dapat duduk di bangku sekolah, namun mereka harus merasakan bahwa mereka layak menerima itu.

Ada banyak lembaga- lembaga masyarakat yang turun ke tempat-tempat terpencil di wilayah kota, menyemburkan semangat pendidikan yang ceria, positif, terus memotivasi anak-anak yang merasa tertinggal dalam kemajuan pendidikan, sehingga mereka merasa di hargai. 

Salah satu kegiatan yang penulis ikuti yaitu komunitas Jaringan Doa Pemuda Se-Bintan dalam kegiatan rumah belajar yang digalakkan bagi anak-anak di daerah Kijang, pembelajaran untuk semakin memotivasi anak-anak dari yang kecil, belum bersekolah hingga yang bersekolah untuk semangat belajar, semangat untuk ingin maju dan keceriaan dalam menempuh masa depan yang sangat baik.

Kita mungkin pernah berfikir apakah teman-teman kita yang kurang beruntung tersebut masih punya impian besar untuk bersekolah atau berpendidikan? Apakah mereka tidak merasa ingin seperti teman-teman lainnya yang dapat menikmati pendidikan yang baik? Jawabannya mereka sangat ingin dan mereka seharusnya berada di lingkungan yang tepat untuk bertumbuh.

Kita sebagai generasi yang akan memajukan bangsa ini, kita harus sadar bahwa pentingnya pendidikan untuk dapat menjadi senjata kita untuk berperang dalam kancah dunia agar kita tidak kalah saing dan menjadi bangsa yang unggul. Itu semua harus dimulai dari sekarang, harus disadari sejak ini, jangan hilang harapan untuk terus bangkit dan maju. Sebagian dari mimpi kita ada pada mereka dan mereka perlu itu terwujud.

Walaupun kita punya keterbatasan dalam meraih pendidikan yang lebih baik, namun kita tetap harus punya kegigihan dan semangat yang tidak pudar untuk terus maju.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker