Opini

Keluarga Pembom Bunuh Diri Gereja Surabaya Itu Alumni ISIS

Oleh: Birgaldo Sinaga
Penulis

Minggu pagi buta, 13 Mei 2018, Dita Supriyanto baru saja usai sholat subuh. Ia kembali ke rumahnya. Istrinya dan keempat anaknya sudah bersiap-siap berangkat.

Di dalam ruang tamu itu, enam orang ayah ibu dan anaknya itu tampak berpelukan. Mereka bersiap melaksanakan misi mulia.

Dua anak lelakinya berusia 19 dan 17 tahun mengeluarkan satu sepeda motor bebek.

Si sulung membonceng adiknya. Sebuah tas ransel besar dipangku di tengah boncengan. Mereka segera pamit. Mencium salim tangan kedua ayah ibunya. Memeluk dua adiknya yang masih kecil.

Tujuan mereka menuju Gereja Katolik Santa Maria Tidak Bercela, Ngagel, Surabaya.

Si Ibu bernama Puji memakai pakaian cadar hitam. Ia melilitkan bom di balik perutnya.

Dua anak perempuannya yang masih kecil juga dililitkan bom dalam tubuh mungil mereka.

Kedua anak kecil itu hanya diam. Mereka tidak tahu dalam hitungan menit, tubuh mereka akan hancur luluh lantak.

Sementara kepala keluarga Dita Supriyanto, membawa bom dalam mobil yang telah disiapkan.

Tepat sesuai waktu yang ditentukan sekitar pukul 06.30 WIB, satu keluarga berjumlah 6 orang ini berangkat meninggalkan rumah mereka.

Mereka membentuk 3 pasukan pembom bunuh diri. Dua anak lelakinya menuju Gereja Katolik SMTB, Ngagel. Pake motor.

Sekitar pukul 07.10 WIB, kedua kakak beradik yang berboncengan motor ini nampak memacu kendaraannya. Tas ransel berisi bom di pangkuannya siap diaktifkan. Dengan tatapan tajam pengendara motor itu terus memacu motornya. Ia masuk gereja melalui pintu samping.

Bayu, sekuriti yang berjaga segera menghentikan pengendara motor itu. Pengendara motor itu tidak mau memarkirkan kendaraannya di samping gereja. Area parkiran motor berada di samping gereja.

Dua anak muda itu motor itu terus menerobos masuk menuju gedung gereja. Bayu bergegas mengejar. Dengan tangkas Bayu menghalau pengendara motor itu ke tepi hingga tidak bisa masuk gedung gereja.

Tiba-tiba… jam menunjukkan Pukul 07.11 WIB.

Terdengar ledakan keras.

Booommm… Darrr… Dar… Bommm..

Seketika bom meledak. Tubuh-tubah jemaat yang berada di halaman gereja depan gereja terlempar terkena kerasnya tekanan bom.

Bayu terlempar puluhan meter. Kepala Bayu terlempar jauh dari badannya. Bom bunuh diri yang dibawa pengendara motor itu meledak saat motor sedang bergerak dihalau Bayu.

Puluhan orang bergelimpangan. Beberapa orang tewas seketika. Dua bocah kakak adik Evan (12) dan Nathan (9) juga terkena ledakan bom. Nathan tewas seketika. Evan adiknya tidak lama berselang menyusul kakaknya hanya bisa bertahan sekitar 8 jam di rumah sakit.

Puji dan dua anak perempuannya yang masih kecil diantar suaminya Dita ke target gereja lain. Puji membawa bom sambil menggenggam tangan kedua anaknya. Ia berjalan tenang memasuki kompleks Gereja GKI Diponegoro Surabaya.

Dita sendiri usai mengantar pergi ke target gereja yang berbeda. Waktu dan target serangan serentak telah mereka rancang sejak lama. Bom bunuh diri juga telah mereka rakit sebelumnya.

Seorang sekuriti gereja yang berjaga melihat dan curiga dengan gerak-gerik Puji yang bercadar hitam itu.

Ia dihalau oleh sekuriti itu agar tidak masuk kawasan gereja. Tapi Puji tidak bergeming. Ia mendesak masuk halaman gereja. Puji dan kedua anaknya tertahan.

Penjaga yang berjaga itu semakin curiga. Tiba-tiba Puji merapat ke sekuriti itu. Lalu berteriak nyaring mengucap takbir.

Boommmm… Darrrr…. Boommm…

Seketika api membubung tinggi. Daging-daging tubuh manusia terlempar ke udara jatuh berserakan seiring ledakan bom dari tubuh ibu itu. Kedua bocah malang tidak berdosa yang ikut ibunya itu juga terkena bom.

Tubuh mungil keduanya tercerai berai terkena ledakan bom yang dibawa ibunya. Bom bunuh diri dari ibu yang merawat dan memeluknya setiap hari.

Apa yang terjadi? Mengapa satu keluarga yang berkecukupan ini mau melakukan pekerjaan gila ini?

Dita Supriyanto pernah terlibat dalam perang di Suriah. Ia belajar strategi teror, kemiliteran, dan membuat bom di sana.

Usai ledakan bom bunuh diri itu, polisi bergerak cepat ke rumah Dita. Polisi menemukan empat bom aktif di rumah Dita Supriyanto.

Beberapa hari ini, kita dibuat gaduh. Kita dibuat kaget mendengar rencana pemerintah yang disampaikan Menag Fahrur Rozi akan membawa pulang combatan ISIS.

Saya sungguh terkejut. Benar-benar tidak habis pikir pemerintahan ini punya wacana mau memulangkan teroris kejam itu ke tanah air.

Dalam ledakan bom gereja Surabaya itu 8 korban jiwa melayang. Belum lagi puluhan yang luka-luka. Belum lagi mereka yang trauma.

Saya tahu hancurnya keluarga yang kehilangan anaknya. Menderita seumur hidup. Saya tahu bagaimana menderitanya ayah ibu yang melihat tubuh anak-anaknya terbakar.

Saya tahu semua itu, karena selama 3 tahun ini saya bersama Alvaro dan Trinity berjuang untuk bisa pulih berobat hingga ke luar negeri. Dengan kocek sendiri. Tanpa ada dukungan pemerintah.

Jadi hentikan wacana membawa pulang penjahat teroris eks ISIS itu kembali ke tanah air.

HENTIKAN!!

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker