Seputar Kepri

Listrik PLN Bawa Peradaban Baru ke Titik Nol Batam

Meteran terpadu milik PLN Batam yang dipasang di pintu masuk perkampungan pesisir Teluk Ahway Titik Nol Galang. Kamis (7/11/2024). (Foto: Jhonwesly)

PRIMETIMES.ID, BATAM – PLN tidak hanya sekedar penerangan bagi warga titik nol km ujung darat pulau Batam di Galang Baru. Melainkan kehadiran PLN menjadi peradaban baru bagi masyarakat disana.

Secercah harapan lahir bagi masyarakat di titik nol sejak perkampungan di Tanjung Cakang dan sekitarnya mulai dialiri listrik di awal tahun 2022 lalu.

Dengan kehadiran PLN, disamping perkampungan yang sudah terang benderang kini banyak aktivitas yang dapat dilakukan masyarakat di pulau Galang, khususnya Tanjung Cakang Galang Baru.

Walau tinggal di ujung pulau Batam, masyarakat Tanjung Cakang kini tak lagi merasa tertinggal dari kehidupan modern, mereka telah menikmati fasilitas listrik selama 24 jam.

Layakanya listrik di pusat kota, masyarakat sudah dapat menikmati beragam fasilitas yang didukung listrik, menonton televisi, mendengarkan musik dengan pengeras suara, menyalakan lampu kelap-kelip menerangi gemerlap malam.

Selain kenikmatan entertaiment yang dapat disuffort PLN, warga Tanjung Cakang pun menikmati kehadiran listrik menjadi sumber penghasilan. Ada yang jadi sumber penghasilan utama, juga penghasilan tambahan.

Warga ada yang berjualan, kios kelontong, mengawetkan hasil tangkap ikan sebelum dijual, mencarger kebutuhan alat untuk turun melaut dan lainnya.

“Iya, alhamdulillah lah. Sejak hadirnya listrik PLN ini kampung Tanjung Cakang ini tak lagi seperti dahulu, gelap gulita semua. Sekarang, PLN sudah 24 jam menyala,” ujar Tagor warga Tanjung Cakang saat ditemui penulis dilokasi pada Kamis (7/11/2024) pagi.

Tinggal di Tanjung Cakang, titik nol km ujung darat Batam, Tagor bukan lah orang baru. Ia sudah tinggal dan menetap di Tanjung Cakang sejak tahun 1995 silam. Rumah Tagor berada tidak jauh dari bundaran titik nol km ujung darat Batam. Perkiraan jaraknya sekitar 10 meter dari tugu bundaran titik nol km.

Sore itu, kebetulan Tagor sedang memasang lampu masjid yang rusak, bola lampu ia ganti sehingga masyarakat pulau nantinya dapat melaksanakan sholat maghrib.

Rumah Tagor dengan masjid perkiraan berjarak 50 meter. Tagor merupakan suami dari ketua RT003 yang juga pengurus masjid Al Hizra.

“Ini masjid, dapat pemasukan listrik gratis dari PLN, 4 Amper. Jadi Masjid tinggal membayar biaya pemakaian bulanan, tiap bulan saya bayar sekitar 70 ribu, itupun karena sekalian narik air Sanyo,” kata Tagor.

Masjid Al Hizra yang diurus Tagor menjadi satu satunya bangunan masjid yang ada di Tanjung Cakang hingga menuju jembatan 6 Galang. Kehadiran masjid yang difasilitasi listrik membuat suasana perkampungan menjadi hidup, kini warga dapat merasakan hadirnya rumah ibadah yang sebenarnya.

Sore hari menjelang malam (maghrib), penulis menyaksikan Masjid itu tampak terang benderang, lampu terpasang diberbagai sudut bangunan. Warga pun silih berganti melakukan ibadah sholat.

“Tentunya banyak yang berubah lah, di kampung ini sejak sudah ada penerangan listrik PLN. Contohnya saja untuk masjid, saat maghrib warga sudah mulai banyak yang datang sholat, kalau dulu waktu masih belum ada lampuh, masing-masing dirumahnya,” ungkap Tagor bercerita.

Disamping itu, Tagor menyampaikan PLN menjadi sumber kehidupan baru bagi masyarakat di pulau. Termasuk bagi keluarganya.

Bukan tanpa sebab, sejak hadirnya PLN ia membuka usaha warung kelontong dengan mempekerjakan sang istri (usaha rumahan). Warung Tagor menjual beragam dagangan, mulai dari sembako, jajanan, ikan dan paling utama membuat es batu untuk dijual ke masyarakat dan nelayan. Warung kelontong usaha Tagor dia yakini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Alhasil, dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.

“Biasalah, warung kelontong. Tapi kalau dari segi pemanfaatan listrik istri dirumah jualan es, ada es lilin, es batu. Es batu itu nanti dijual kebeberapa nelayan yang turun langsung melaut, es itu digunakan untuk menjaga kesegaran ikan saat nelayan turun melaut menangkap ikan,” kata Tagor.

Lantaran berjualan es batu, tak heran jika Tagor memiliki kulkas dan frezer. Nelayan, tak perlu lagi harus menunggu balok es dikirim dari pulau Batam, namun sudah dapat dibeli di warung Tagor.

Kabel listrik PLN memanjang hingga ke depan rumah perkampungan pesisir Teluk Ahway titik nol Galang. Kamis (7/11/2024). (Foto: Jhonwesly)
Kabel listrik PLN memanjang hingga ke depan rumah perkampungan pesisir Teluk Ahway titik nol Galang. Kamis (7/11/2024). (Foto: Jhonwesly)

Tagor berkisah, waktu perkampungan belum dialiri listrik sang istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Terkadang ikut dengan Tagor ke Batam mencari rezeki. Namun setelah kehadiran PLN, istrinya Ernayanti kini punya usaha walau hanya warung kecil namun dapat memberikan penghasilan tambahan.

Mengulas tentang perkampungan, Tagor tau betul perjalanan pulau Galang Baru dari tahun ketahun, mulai dari belum ada listrik hingga ada listrik. Apalagi istri Tagor, Ernayanti menjadi ketua RT sudah beberapa periode.

Tagor memiliki pekerjaan sebagai supir minibus angkutan barang, sembako dan logistik usaha koperasi dari Batam menuju Pulau Galang. Pekerjaan itu Tagor lakoni sudah cukup lama, sejak Hijrah dari Tanjungpinang dan merantau ke Batam pada tahun 1995 lalu.

Bagi Tagor, juga masyarakat lainnya di Tanjung Cakang, kehadiran PLN diakui berdampak positif bagi peradaban warga kampung. Selain menjadi sumber penerangan, dan sumber pendapatan, listrik juga menjadi awal peradaban baru bagi masyarakat hinterland di ujung darat Batam.

Para ibu-ibu rumah tangga di Tanjung Cakang merasa pekerjaannya tak lagi berat seperti sedia kala dikala perkampungan masih gelap gulita dari kata penerangan.

Persoalan kecil, mulai dari pekerjaan memasak nasi dengan ricecooker, mesin mencuci pakaian, memasak air minum kini sudah dapat teratasi.

Keberadaan masyarakat Hinterland tak lagi menjadi hambatan bagi mereka sejak PLN memasuki perkampungan.

Tanjung Cakang merupakan ujung darat pulau Galang Baru, dilokasi ini menjadi titik kordinat luasan pulau Barelang dimulai dari titik nol km terdapat bundaran yang menjadi simbol layaknya tugu tanpa gapura. Titik nol yang berada di Tanjung Cakang memiliki beberapa perkampungan, termasuk kampung tua. Terdapat kampung Teluk Ahway yang dihuni 50 KK. Rumah-rumah warga Teluk Ahway berada diatas pesisir pantai yang menghadap ke Pulau Abang.

Tiang-tiang listrik PLN Batam berjejer di sepanjang Jalan Trans Barelang hingga ke Titik Nol atau Kilometer 0 ujung darat Batam. Kamis (7/11/2024).(Foto: Jhonwesly)

Tanjung Cakang berada di kelurahan Galang Baru Kecamatan Galang. Jumlah penduduk dilokasi ini berjumlah 60 an KK. Titik nol km berada di RT 003 RW 004. Permukiman di Tanjung Cakang tak seperti di kota, jarak antar rumah dilokasi ini cukup jauh, ada yang 50 meter hingga 1 km meter.

Bahkan, jarak antara RT dengan RT lainnya terbilang jauh, ada yang sampai menyeberang pulau. Ketua RW 004 berada di Pulau Labun, masyarakat yang ingin berurusan dengan ketua RW harus menyeberangi pulau.

Tanjung Cakang umumnya dikenal dengan banyaknya lokasi wisata pantai, ada pantai Eliora, Elona, Viona Beach, pantai Cakang dan lainnya. Sumur permukiman kampung telah dialiri listrik PLN walau ada beberapa bangunan rumah belum memasang meteran listrik namun mereka mensuplai dari rumah kerabat/tetangga.

Kehadiran listrik PLN pun kini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat hinterland.

(Penulis : Jhonwesly Lumbantobing)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker