Rahmad dan Panel Surya, Kisah Dibalik Energi Hijau Untuk Masyarakat Tanjung Uma

PRIMETIMES.ID, BATAM – Bangunan mini layaknya atap berjejer di sebidang lahan milik PT. PLN di perkampungan Tanjung Uma, Batu Ampar, Batam. Deretan atap itu bukan sembarang atap, melainkan atap yang didesain untuk menyerap dan menampung energi matahari.
Iya, bangunan mini yang berdiri di atas lahan sekira 1 hektar itu merupakan energi terbarukan alias Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik PT PLN Batam. Pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 1 Megawatt ini menjadi simbol komitmen PLN Batam menuju energi terbarukan, di samping bersih tentunya berkelanjutan.
Pasokan cadangan 1 megawatt ini disalurkan ke sejumlah permukiman masyarakat yang berada di sekitar lokasi PLTS, yakni perkampungan yang berada di area pesisir Tanjung Uma, lebih dari 100 rumah, puskesmas, tempat ibadah, dan fasilitas umum dengan rata-rata daya 1.300 VA per rumah.
Tak heran, keberadaan PLTS ini cukup dirasakan masyarakat sekitar. Listrik jarang padam, Puskesmas dapat memberikan layanan yang prima, serta masyarakat dapat melakukan aktivitas dan berbagai usaha untuk mendongkrak perekonomian.
Keberhasilan PLTS ini tentu didukung oleh pemeliharaan ketat tim operator, yang rutin memeriksa inverter, trafo, dan komponen penting lainnya dalam infrastruktur kelistrikan.
Tim operator PLTS Tanjung Uma juga memainkan peran penting sebagai ‘jantung’ infrastruktur kelistrikan guna mendukung komitmen PT PLN Batam dan pemerintah untuk mempercepat transisi menuju energi berkelanjutan.
Penulis meninjau langsung proyek PLTS Tanjung Uma itu pada Jumat (25/10) siang. Di lokasi, PLTS itu dikendalikan sejumlah petugas PLN yang bertugas mengontrol. Sementara petugas sekurit berjaga setiap harinya dengan pembagian waktu.
Melihat langsung panel-panel dan sistem PLTS saat menghimpun produksi surya ke dalam penyimpanan dan selanjutnya disalurkan ke Gardu yang berada di depan PLTS lalu dari Gardu mendistribusikan ke rumah masyarakat.
Siang itu, operator PLTS, Rahmad Rido, tampak sibuk. Ia menata panel layaknya tim teknisi. Dengan mengenakan seragam lengkap, helm safety, Rido melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari di sana. Layaknya petugas terampil, Rido tau betul apa yang harus dia kerjakan di sana. Apalagi saat bertugas di PLTS telah ada SOP.
“Harus dikontrol terus. Kita setiap hari ada 4 orang petugas yang mengontrol, 2 operator, 1 gardener dan 1 enginer. Kami masuk setiap pagi, mulai dari jam 8 sampai jam 5 sore,” ungkap Rahmad Rido di lokasi.
Bekerja sepanjang hari, kadang kala Rido harus membawa bekal dari rumah yang telah dibontot oleh sang ibu. Jika tak membawa bekal, Rido akan makan siang di warung nasi depan lokasi PLTS.

Rahmad Rido, siang itu tampak benar-benar sibuk. Selain menata panel ia juga membersihkan sampah dan rerumputan yang berada di bawah atap panel. Kebersihan lokasi panel menjadi salah satu pendukung agar infrastruktur kelistrikan dapat maksimal menyerap tenaga surya.
“Harus dikontrol terus setiap saat, manatau ada atap panel yang bocor, rusak atau gosong. Jadi setiap hari kami melakukan pengecekan trafo. Karena di dalam ada komponen kelistrikan secara berkala.
Panel ini, melakukan produksi listrik dari pagi pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, sepanjang ada surya,” ungkapnya.
Jika waktu sudah memasuki sore hari, Rido dan rekannya pun akan mengontrol kembali seluruh perangkat dan pendukung pasokan listrik. Hal itu dilakukan untuk memastikan agar semua sistem komponen kelistrikan terjaga dan terawat hingga kembali esok pagi harinya.
Bekerja di PLTS Tanjung Uma, Rido bukanlah orang baru. Ia sudah dua tahun bekerja di sana. Bagi Rido, pekerjaan itu menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya. Meski jarak rumah dengan PLST terbilang jauh, namun hal itu tak menyurutkan semangatnya demi menjamin infrastruktur kelistrikan berjalan optimal.
“Tiap hari pulang pergi, rumah di Sagulung. Paling berangkat lebih cepat lah dari rumah, karena lumayan jauh juga, kan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Rido menjelaskan, pasokan suplai listrik akan lancar ketika musim panas. Beda hal ketika cuaca hujan, produksinya akan berkurang.
“Kalau kotor atau gosong seperti itu, itu harus diperbaiki. Supaya tidak menghambat penyerapan sinar surya,” kata Rido sembari menunjuk panel yang kotor menghitam pada atap bagian tengah. Rido pun langsung menata dan membersihkannya.
PLTS ini dibangun sejak tahun 2020. PLTS itu dilengkapi jumlah 272 meja panel surya dengan kuota instalasi mencapai 2.720 unit. Dalam satu bulan, PLTS itu menghasilkan 1 megawatt tegangan listrik. PLN Batam berencana memperluas kapasitasnya menjadi dua hektar.
Vice President of Public Relations PLN Batam, Bukti Panggabean, mengatakan, PLN Batam siap beralih dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
PLN Batam saat ini tengah membangun PLTS. Beberapa proyek yang sudah berjalan antara lain di PT. Bandara Internasional Batam (BIB), PT. Karya Teknik Utama di Sagulung dan Batuampar, PT. Bumi Abadi Tegarsakti.
Kemudian juga ada di perusahaan lain, di antaranya PT. Sinergy Oil Nusantara, PT. Citra Lautan Teduh, PT. Pasifik Karya Sindo Perkasa, PT. Inti Karya Persada Teknik (IKPT), PT. Servotech Indonesia, PT. Tunas Group, dan PT. Panasonic.
“Prosesnya bertahap. Di tahun 2023, energi hijau sudah bisa diaplikasikan. Kami sedang dalam proses menuju PLTS untuk mendukung penerapan energi hijau,” ujarnya.
Diakuinya, investasi di sektor energi hijau membutuhkan biaya yang besar. Namun perlahan Ia optimis sumber energi listrik akan beralih ke sana.
Menurut dia, saat ini Batam sedang menuju arah energi berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya yang terbarukan. Hal itu dilakukan untuk tidak merusak lingkungan serta memastikan energi tetap tersedia di masa depan.
“Kita sedang menuju energi berkelanjutan. Saat ini, energi yang relevan adalah energi matahari, dan di Batam potensi energi terbarukan paling cocok adalah tenaga surya,” tuturnya.
Hal itu juga didukung banyaknya perusahaan di Batam yang memiliki luasan atap untuk menjadi PLTS. Tak heran saat ini sejumlah perusahaan sudah mandiri dalam sistem kelistrikan lewat atap gedung yang dipasang panel surya.
Kata dia, pembangunan PLTS di kawasan Tanjung Uma dinilai strategis karena letaknya yang dekat laut pesisir.
“Potensi di Batam besar sekali. Jika cadangan energi berlebih, kita bisa mengekspornya ke Singapura,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ratusan panel surya yang dipasang akan menyerap panas dan disalurkan langsung ke gardu sebagai cadangan energi untuk Batam.
Untuk memaksimalkan energi surya, perawatan rutin diperlukan untuk membersihkan debu dan lumut yang menempel pada panel. Energi yang sudah tertampung juga harus dikontrol, agar tidak merusak panel yang telah terpasang.
“Untuk pulau, ada PLTS komunal sebagai sumber listrik utama bagi warga, walaupun masih dalam proses. Unit bisnis PLN telah memasang PLTS rooftop untuk perusahaan industri di Batam, dengan total 14 megawatt peak. Salah satunya di industri Sat Nusa Persada, Eco Green, dan lainnya,” katanya.
“Rencana pengembangan kawasan PLTS pada 2025 menargetkan peningkatan dua kali lipat dari kapasitas saat ini, yaitu 1 megawatt,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa tantangan utama pembangunan PLTS adalah biayanya yang tinggi. Satu panel surya saja bisa menghabiskan biaya puluhan juta, ditambah lagi dengan perawatan rutin yang harus dilakukan.
“Meskipun biaya pemasangan awal cukup mahal, hasilnya sepadan dengan penghematan energi yang diperoleh. Satu modul VV bergaransi 20 tahun, dan akan diganti setiap periode tersebut,” kata dia.
(Penulis : Gibson Manurung)



