“Manghutti Tandok” Tradisi Batak Yang Aduhai

PRIMETIMES.ID, TOBASA,
Sekelompok Ibu tampak menjunjung hantaran dalam “Tandok” sambil berjalan dan “manortor” (menari tarian Batak, red) diiringi alunan musik gondang Batak dalam satu pesta adat Batak. Para Ibu tersebut mampu melakukannya tanpa memegang tandok yang dijunjungnya hingga hantaran berupa beras atau padi yang ada di dalam tandok tersebut dipindahkan kepada pihak tuan rumah dalam pesta tersebut.
Ya, “Manghutti Tandok” atau menjunjung tandok adalah salah satu tradisi Batak saat membawa “hantaran” dalam suatu pesta adat. Manghutti tandok biasanya dilakukan oleh kaum perempuan Batak. Dan perempuan Batak sangat bangga jika mampu melakukannya dengan baik.

Bagi orang yang bukan suku Batak mungkin akan sedikit takjub dengan para ibu yang manghutti tandok ini.
“Oh my Godness, they did it. How could?” Ujar Sarah Brightmann, wisatawan asal United Kingdom saat melihat ibu-ibu manghutti tandok dalam suatu pesta adat di Lumban Julu, Tobasa, Sabtu, (27/04/2019) lalu.
Tandok sendiri adalah alat hantaran atau wadah yang terbuat dari anyaman bayon, (daun pandan, red) dengan bentuk yang khas. Bagi orang Batak, tandok sangatlah penting dan digunakan saat upacara adat dan seremonial lainnya. Pada umumnya wadah ini untuk tempat beras/padi yang dihantar/dijungjung sebagai persembahan. Dan biasanya ukuran normal tandok berkisar 60-80 CM.
Dalam acara adat seperti, pesta mangadati, mangongkal holi, (menggali tulang belulang leluhur untuk dipindahkan, red) upacara adat tu na monding, (meninggal, red), tardidi, ulang tahun, syukuran maupun bona taon, tandok akan dijunjung untuk membawa hantaran maupun persembahan sambil manortor. Sungguh tradisi yang aduhai!
(BUNG MANURUNG)



