Pelukan Rindu Ayah Trinity
PRIMETIMES.ID,
Matahari tepat di atas kepala ketika bocah kecil Trinity berlari mengejar ayahnya di Tower 7 Wisma Atlet, Jakarta.
“Bapakkkk…Bapakkkk!!,” pekik Ity memanggil ayahnya.
“Jangan Ity. Jangan dekat. Tidak bisa,” ucap ayahnya, Gibson Hutahaean.
“Kenapa Pak? Ity kan rindu..,” balas Ity sambil menghentikan langkahnya.
“Bapak kena Corona. Nanti menular sama Ity,” ujar Gibson.
Beberapa tentara yang menjaga pos Tower 7 Wisma Atlet mendekati Ity. Mereka membujuk Ity untuk menjauh. Tapi Ity bertahan. Ia ingin memeluk ayahnya.
“Aku rindu bapakku. Lihat ini semua badanku. Ini gara-gara teroris Juhanda melempar bom,” protes Ity kencang.
Ity kesal. Ity marah. Marah sama nasib dirinya. Ity melampiaskan amarahnya.
Ibu Trinity menjelaskan keadaan putrinya kepada para tentara itu. Seketika para tentara mengambil sikap hormat. Mereka memasang baret. Lalu meminta foto bersama.
Mereka tidak tega melihat kulit Trinity yang hampir 60 persen terbakar. Terbakar karena ulah teroris jahat.
Hampir 1 jam Gibson, istrinya Sarina Gultom dan Ity berdiri dengan jarak berjauhan. Mereka berbicara dengan jarak hampir sepanjang lapangan bola volly. Tanpa ada pelukan. Tanpa ada gendongan. Saling menatap. Saling menanyakan kabar.
Pada 3 Agustus lalu, Gibson terbang dari Zambia menuju Bandara Soetta. Sebelumnya pesawat Ethiopia Air yang ditumpanginya transit di Ethiopia. Dari Ethiopia langsung menuju Jakarta.
Gibson bekerja di salah satu perusahaan tambang di Zambia. Ia pulang mengambil cuti sekaligus memperpanjang passpor.
Sementara saat itu, di Guang Zhou, Ibu Trinity dan Ity juga bersiap-sisp pulang ke tanah air. Hampir satu setengah tahun mereka sudah di Guang Zhou. Berobat memulihkan luka bakar Ity.
Kepulangan mereka berbarengan. Trinity balik tanggal 6 Agustus. Ayahnya 3 Agustus. Rencana pulang 6 Agustus juga batal karena penerbangan dari Tiongkok ke Jakarta dibatalkan maskapai. Direschedule pada 12 Agustus.
“Tulang Birgaldo, Ity mau pulang. Kita ketemu ya di Jakarta, Tulang. Ity bawa oleh-oleh buat Tulang,” ucap Ity di telepon.
Saya bertemu Ibu Trinity dan Ity pada 13 Agustus. Ity senang sekali. Saya melihat kondisi tangan jemarinya. Jarinya sudah bisa berfungsi. Sewaktu di Guang Zhou setahun lalu, saya melihat jemari tangan Ity hanya berfungsi 20 persen.
Ity tidak mampu memotong roti pakai pisau. Empat jemari tangan kanan Ity tidak bisa menggenggam pisau. Untuk memotong roti, jari jempol dijepitkan dengan jari telunjuknya. Begitulah caranya menggengam sesuatu.
Sekarang jemarinya sudah bisa berfungsi kembali. Operasi terakhir bulan April lalu berhasil. Ia sudah bisa menggenggam pensil dengan benar. Ia sudah bisa menulis.
“Saya sebenarnya ingin memeluknya, Lae. Saya berusaha menahan diri,” ujar Gibson lirih.
Kami bertemu pada 25 Agustus di sebuah kedai kopi di bilangan Kebon Jeruk.
Saya mendengar setiap kata yang meluncur pelan dari perasaannya. Saya bisa membayangkan bagaimana rindu membuncah dalam hatinya. Membayangkan pertemuan yang sangat diharapkannya. Namun gagal. Semua karena Covid 19.
“Mungkin saya kena sewaktu transit di Ethiopia lae,” ujar Gibson.
Setiba di Jakarta, Gibson melakukan isolasi mandiri di salah satu hotel dekat bandara. Esoknya, 4 Agustus hasil test swab keluar. Positif.
Ambulance dan petugas menjemput Gibson. Membawanya ke Wisma Atlet. Di sana Gibson diperiksa kesehatannya. Dirontgen, dicek darah, jantung.
Habis diperiksa, Gibson ditempatkan di tower 7 lantai 19. Hampir 3 minggu dikarantina.
Selama seminggu, Gibson diinfus. Awalnya lidahnya tidak bisa merasakan sesuatu. Ia tidak tahu gejala itu pertanda kena Covid 19. Ia tidak batuk dan demam. Hanya lidahnya tidak bisa merasakan rasa.
“Langsung down saya lae waktu dinyatakan positif. Terbayang sesuatu yang buruk di benak saya. Apalagi akhirnya saya tidak bisa bertemu anak-anak saya,” ujar Gibson lirih.
Cila, putri keduanya sudah menunggu-nunggu kedatangan ayahnya. Gibson berjanji akan hadir di perayaan ulang tahun Cila pada 4 Agustus. Gibson juga berjanji pada Ity bersama-sama merayakan hari ulang tahunnya 21 Agustus.
Rencana itu gagal. Gibson terkena Covid 19. Harus dikarantina di Wisma Atlet. Entah berapa lama.
Pada 19 Agustus, Ibu Trinity dan anaknya pulang ke Samarinda. Mereka tidak bisa menunggu lama. Ity sudah harus masuk sekolah. Ayah Trinity masih tergolek di Wisma Atlet.
Saya mengantar mereka ke Bandara Soetta. Saya melihat kemurungan di wajah Ity. Ia sedih tidak bisa bersama ayahnya. Sepanjang perjalanan Ity lebih banyak diam. Padahal sebelumnya Ity selalu riang jika berada di dalam mobil. Ia bisa berjoget-joget sambil mendengarkan musik radio. Hari itu Ity murung. Ia tidak bersemangat.
“Horas lae. Dokter mengatakan saya sudah sembuh. Tanggal 25 Agustus ini sudah bisa keluar,” ujar Gibson di telepon. Ia sudah mengantongi surat test swab negatif.
Gibson senang sekali. Ia tidak menyangka bisa cepat sembuh dari corona. Itu artinya ia bisa pulang ke Samarinda. Meskipun hanya dua tiga hari saja. Yang penting bisa menggendong putri bungsunya Ity. Merayakan ultah Cila yang tertunda.
Usai mengurus perpanjangan paspor, Gibson memutuskan pulang ke Samarinda.
Pada 29 Agustus, saya mengantarnya ke Bandara Soetta.
Sepanjang perjalanan ada getaran senang gembira di nada suaranya. Ia sudah tidak sabar lagi ingin memeluk anak-anaknya.
“Bapakkkk…Bapakkkk…Bapakkkk…,” teriak Ity kencang di depan pintu kedatangan Bandara Samarinda.
Kali ini tidak ada lagi tentara mengawal pertemuan mereka.
Ayah Ity membuka lebar kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca. Ia merangkul putri bungsunya itu. Mengangkatnya. Menggendongnya. Dengan mata terpejam. Merasakan getaran rindu yang tertahan. Rindu yang membuncah. Rindu seorang ayah pada putrinya.
#Salam perjuangan penuh cinta
(Birgaldo Sinaga)



