Gerakan Sosial Di Tengah Pusaran Pandemi Covid- 19
Penulis: Rizka Nurfazrin
(Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, Universitas Maritim Raja Ali Haji)
Merebaknya virus COVID- 19 (Corona) berdampak besar tidak hanya dalam bidang kesehatan, tetapi juga berdampak pada perekonomian, termasuk pada kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan proses pembelian barang dan jasa.
Semakin hari banyak masyarakat Indonesia yang tercatat positif menderita COVID-19, bahkan hingga sekarang telah tercatat dua ribuan orang terkena virus ini dan diprediksi akan terus bertambah beberapa bulan ke depan. Kejadian ini membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan “bekerja, belajar dan beribadah dirumah” untuk mencegah ledakan pasien positif COVID-19 di Indonesia.
Sejumlah daerah juga telah menerapkan status tanggap darurat diwilayahnya masing-masing. Dampaknya adalah aktivitas masyarakat menjadi sangat terbatas karena sudah banyak beredar larangan dan imbauan dari pemerintah untuk tidak keluar rumah dan menghindari tempat-tempat keramaian. Fenomena ini secara tidak langsung telah menciptakan situasi yang paradoks di dalam masyarakat. Di satu sisi masyarakat harus tetap berada di dalam rumah untuk menjaga kesehatan diri dan keluarganya terhadap virus COVID-19, namun di sisi lain masyarakat harus keluar rumah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya khususnya mereka yang bestatus sebagai pekerja harian.
Pasien positif COVID-19 yang semakin hari kian semakin parah di Indonesia nyatanya cukup berhasil mendorong masyarakat untuk tetap berada di rumah dan menghentikan segala aktivitas yang mengundang banyak orang. Hal inilah yang telah memukul perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah yang berstatus pekerja harian. Mereka adalah pekerja warung, toko kecil, pedagang asongan atau kaki lima, pedagang di pasar hingga pekerja lain yang menggantungkan hidup dari pendapatan harian termasuk di pusat-pusat perbelanjaan dan pengendara ojek online. Ditambah lagi terjadi keterbatasan APD (Alat Pelindung Diri) untuk tim medis di setiap rumah sakit rujukan COVID-19 dan juga puskesmas membuat tingkat kematian di Indonesia cukup parah.
Namun di tengah krisis pendemi ini, Indonesia masih memiliki nilai sosial yang sangat tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari gerakan-gerakan yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk saling membantu. Gerakan ini sudah banyak terjadi di setiap daerah, dimulai dari penyemprotan desinfektan, pemberian hand sanitizer secara gratis oleh pribadi maupun kelompok masyarakat, pemberian makan gratis kepada pekerja harian, pengumpulan donasi APD untuk setiap rumah sakit dan puskesmas hingga penggalangan dana yang bisa mencapai miliaran rupiah.
Fenomena ini merupakan aksi kolektif yang terbangun atas dasar satu tujuan yaitu menciptakan situasi yang aman dan kondusif, sehingga lahirlah gerakan sosial dari dalam masyarakat itu sendiri.
Gerakan-gerakan sosial ini nyatanya cukup membantu dan menjadi semangat baru kohesivitas di masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19 secara kolektif.
Banyak influencer Indonesia juga ikut dalam gerakan sosial ini sehingga dapat memberi dorongan yang lebih kuat lagi agar setiap masyarakat dapat bekerja sama dan saling membantu di tengah wabah virus COVID-19.



