Seputar Kepri
Trending

Nenek Leba, Kisah Sunyi dari Rumah Tak Layak Huni

Kondisi rumah Nenek Leba di Kampung Bakau, Sei Jang, Tanjungpinang. (Foto: Ist)

PRIMETIMES.ID, TANJUNGPINANG-
Semilir angin yang berhembus lembut, bergegas menjemput senja yang mulai diukir di ufuk barat. Sementara daun-daun bakau menari-nari dengan gemulai. Suara dari liukannya memecah kesunyian di Kampung Bakau, Sei Jang, Tanjungpinang, Jumat (12/12/2025).

“Nek, saya datang lagi. Kali ini saya bersama teman-teman jurnalis Tanjungpinang. Ini ada rezeki dari orang-orang baik untuk nenek,” ujar Bripka Zulhamsyah, penggagas aksi sosial Razia Perut Lapar (RPL) sembari menyerahkan dua karung beras 10 kg, dan paket makan siang kepada Nenek Leba (68 thn), warga Kampung Bakau.

“Terima kasih, Nak. Semoga sehat terus, diberi rezeki dari Allah,” ujar Nenek Leba sembari memeluk Bripka Zulhamsyah. Air matanya menetes penuh haru.

Nenek Leba memeluk erat Penggagas Razia Perut Lapar (RPL), Bripka Zulhamsyah Putra, saat mendapat bantuan beras dan paket makanan. (Foto: Ist)

Ya, saat itu, Jumat (12/12/2025), RPL bersama sejumlah jurnalis Kota Tanjungpinang menyalurkan bantuan kepada para warga di Kampung Bakau, Sei Jang, Kota Tanjungpinang, salah satunya Nenek Leba (68 thn).

Nenek Leba tinggal di sebuah rumah panggung berukuran kecil berdinding papan yang sudah mulai lapuk. Lantainya pun bernasib sama, mulai dimakan usia. Sementara atapnya, tak lagi mampu menahan air hujan dengan sempurna, sudah banyak berlubang.

“Setiap hujan turun, atap bocor, air menetes membasahi lantai rumah. Saya hanya bisa memindahkan tikar agar tidak ikut basah dan bisa dipakai untuk tidur,” ujar Nenek Leba.

Dapur dan kamar mandinya juga setali tiga uang. Terbuat dari papan dan tidak lagi bisa digunakan, nyaris ambruk. Nenek Leba harus mencari cara lain jika ingin mandi dan buang air.

Nenek Leba tidak tinggal sendiri. Ia bersama ibu angkatnya dan seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarga.

Anak Nenek Leba adalah seorang nelayan kecil. Dengan perahunya yang sederhana, ia melaut. Namun penghasilannya tidak menentu, karena terkadang cuaca tidak memihak kepadanya.

“Kalau cuaca baik, adalah sedikit hasil untuk membeli kebutuhan harian,” ujar Nenek Leba menceritakan perjuangan anaknya.

Meski hidup dalam kekurangan, Nenek Leba dan keluarganya tetap sabar. Di dalam lubuk hatinya, rumah yang lebih layak untuk berteduh, atap yang tidak bocor adalah harapan besarnya.

Nenek Leba membutuhkan uluran tangan dari orang-orang baik, agar asa itu menjadi nyata. Hingga nantinya, kisah sunyi dari rumah tak layak huni ini dapat berakhir.

(BUNG MANURUNG)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker