Minta Klarifikasi Terkait IPAL, Manajemen PT Pulau Bintan Djaya Terkesan Menolak
PRIMETIMES.ID, BINTAN-
Pihak manajemen PT Pulau Bintan Djaya terkesan menolak dan tak ingin memberikan informasi saat awak media ini ingin meminta klarifikasi terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik perusahaan pengolahan karet tersebut.
Berawal saat media ini mendapatkan informasi adanya keluhan beberapa warga terhadap dugaan limbah PT Pulau Bintan Djaya yang diduga dibuang ke danau yang memiliki aliran air ke area perkebunan milik warga di seputar Kampung Telaga Biru, Kecamatan Gunung Lengkuas, Kabupaten Bintan.
Salah seorang warga yang tinggal di dekat kawasan pabrik PT. Pulau Bintan Djaya yang tidak ingin disebutkan namanya, mengeluhkan susahnya mendapat ikan saat mancing di aliran anak sungai yang berasal dari danau yang diduga tempat pembuangan limbah tersebut.
“Biasanya gampang dapat lele di sini, Bang. Sekarang sudah susah,” ujarnya, Minggu (9/7/2023).
Warga lainnya yang juga tidak ingin namanya disebutkan, mengeluhkan aroma udara kurang sedap di jam-jam tertentu yang juga diduga bersumber dari aktivitas pabrik milik PT Pulau Bintan Djaya.
“Biasanya tercium di saat-saat tertentu. Aromanya cukup mengganggu lah, Bang,” ujarnya.
Mendengar keluhan warga tersebut, media ini pun bergerak menuju PT Pulau Bintan Djaya, perusahaan pabrik karet remah (Crumb Rubber Factory) di Jl. Nusantara KM 16, Bintan, untuk meminta klarifikasi terkait IPAL yang dimiliki.
Saat di pos keamaan, pihak keamanan mengatakan bahwa saat itu manajemen tidak bisa ditemui karena hari libur (Minggu, 9/7/2023).
Pihak keamanan meminta untuk mengisi buku tamu dan juga datang esok harinya (Senin 10/7/2023). Media ini pun setuju. Usai mengisi buku tamu dan menuliskan maksud dan tujuan kedatangan, media ini pun undur diri.
Senin (10/7/2023) sekira pukul 11.15 WIB, media ini pun tiba di lokasi PT Pulau Bintan Djaya.
Namun saat di pos keamanan, Komandan Regu (Danru) pos keamanan PT Pulau Bintan Djaya, Benni Moerdani mengatakan bahwa pihak manajemen kembali tidak bisa ditemui.
“Maaf, Bang. Manajemen sedang tidak bisa ditemui karena sedang ada tamu tim audit,” ujarnya tanpa menyebutkan tim audit dari mana.
Mendengar ucapan Danru tersebut, media ini menyampaikan bahwa tujuan menemui pihak manajemen hanya ingin klarifikasi dan mendapatkan informasi yang benar terkait IPAL yang dimiliki.
Danru tersebut pun mencoba untuk menemui manajemen dan menyampaikan maksud dan tujuan media ini.
“Saya coba sampaikan ke manajemen dulu ya, Bang. Silahkan menunggu sebentar,” ujarnya.
Media ini pun menunggu di samping pos keamanan. Kira-kira 12 menit kemudian Danru tersebut pun kembali dan menyampaikan bahwa pihak manajemen tidak bisa memberikan keterangan yang diminta.
“Maaf, Bang. Manajemen kita tidak bisa memberikan keterangan. Kalau misalnya ada keluhan masyarakat, siapa orangnya, silahkan disampaikan ke RT/RW. Nanti pihak RT/RW yang menyampaikan kepada kita,” ujarnya.
Mendengar jawaban tersebut, media ini tidak puas, dan menyampaikan bahwa justru keluhan tersebut didapat dari masyarakat. Media ini berhak merahasiakan identitas yang menyampaikan keluhan tersebut.
Juga disampaikan bahwa media ini hanya ingin menyampaikan informasi yang benar, faktual dan berimbang. Karena itu media ini ingin mendapatkan klarifikasi langsung terkait IPAL perusahaan tersebut dari pihak manajemen.
Namun lagi-lagi Benni Moerdani mengatakan bahwa memang manajemen tidak bisa dimintai klarifikasi.
“Itu prosedur kita di sini, Bang. Silahkan warga yang mengeluh itu sampaikan keluhannya ke pemerintah setempat (RT/RW, red). Nanti mereka yang sampaikan ke kita,” ujarnya lagi.
Atas jawaban tersebut media ini merasa bahwa pihak manajemen terkesan menolak untuk dimintai klarifikasi.
(Red)



