Opini

Membaca Arah Angin Jokowi

Oleh: Sobar Harahap
Masih menempel kuat dalam ingatan kita, ketika Presiden Jokowi memberikan sinyal dukungan untuk Ganjar di Rakernas relawan Projo di Magelang. Ia bilang ojo kesusu walaupun yang kita dukung ada di sini. Peserta lalu serentak meneriakkan nama Ganjar.

Pemberitaan pun ramai setelah itu. Pengamat banyak yang menilai itu semacam aba-aba arah dukungan Jokowi. Umpan lambung, mungkin istilah yang lebih tepat. Meski bola belum tentu mendarat dengan mulus, ada sasaran yang dibidik Jokowi.

Kemarin di Ancol Jakarta, Jokowi kembali mengingatkan pendukungnya agar tidak tergesa-gesa menentukan pilihan. Ia juga kembali memberi umpan lambung: “Oleh konstitusi kita capres harus diusung partai atau gabungan partai, jadi belum tentu capres yang elektabilitasnya tinggi akan didukung oleh partai, kalau mereka nggak mau, gimana?” ujar Jokowi.

Banyak orang kemudian berasumsi ucapan Jokowi ini mengarah kepada Ganjar. Alasannya, pertama Ganjar adalah kader PDI-P atau satu rumah perjuangan dengannya, dan kedua elektabilitas Ganjar sejauh ini memang yang paling tinggi dibandingkan sosok lain.

Jujur saja, ucapan Jokowi bikin hati saya ini kembang kempis. Cemas tak karuan. Setelah kemarin sempat menyanjung, kini tiba-tiba merasa dijatuhkan. Waktu sudah dini hari, tapi perasaan campur aduk membuat rasa kantuk tak kunjung menjenguk.

Saya pun bangkit dari kamar dan memutuskan bikin kopi. Sendirian saya minum kopi di teras rumah sambil berpikir dan terus menerka-nerka maksud ucapan Jokowi. Apakah ungkapan Jokowi sama artinya Ganjar tidak akan dicalonkan oleh partai?

Setelah hampir satu jam berpikir, sambil meraba-raba kembali hubungan antara Jokowi dan Ganjar yang diperlihatkan selama ini, saya akhirnya berani menyimpulkan bahwa bukan itu maksud Jokowi. Ada pesan di balik ucapannya.

Jokowi adalah orang Jawa. Sudah bukan rahasia lagi kalau masyarakat Jawa penuh dengan simbol dan isyarat. Dalam menyampaikan gagasan, lebih-lebih untuk memberikan nasihat, masyarakat Jawa cenderung lebih memilih menggunakan bahasa tersamar.

Penyampaian yang tersamarkan ini, menurut Profesor Suwardi Endraswara, penulis buku Falsafah Orang Jawa, adalah bentuk kehalusan budi agar tidak ada yang tersakiti. Apalagi masyarakat Jawa punya unggah-ungguh yang sudah mengakar kuat.

Dari sana kemudian mulai terang, bahwa ucapan Jokowi justru bisa dimaknai sebagai nasihat. Ia sedang memberi pesan kepada para pendukung Ganjar agar tidak lalai. Jangan sampai karena elektabilitas idolanya yang sudah tinggi, malah santai-santai dan jumawa.

Politik amat dinamis. Itulah yang ingin disampaikan Jokowi. Meski dukungan untuk Ganjar kali ini yang tertinggi, tidak menutup kemungkinan di kemudian hari bisa tersalip. Maka tak ada cara lain bagi pendukungnya untuk tetap solid, terus menyebarluaskan pencapaian serta inovasi Ganjar selama memimpin Jateng, hingga kemudian orang semakin paham kenapa dia patut memimpin negeri ini.

Jika elektabilitas Ganjar stabil apalagi makin naik saat mendekati Pilpres, pastilah partai akan realistis. Lebih-lebih, partai adalah wadah aspirasi rakyat. Dengan mengabaikan suara rakyat, artinya partai telah siap kehilangan kepercayaan publik.

Sebagai presiden, tentu Jokowi tak mungkin berbicara seterang itu di depan umum. Tapi publik tetap bisa membaca kemana arah angin Jokowi pada Pilpres 2024. Apalagi sudah berkali-kali Jokowi menyinggung soal Ganjar. Bukankah itu juga bisa dikatakan sebagai isyarat?

Salam, Sobar Harahap.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker