Opini

Sekelumit Tangan Dingin Ganjar

Oleh: Sobar Harahap
Dulu Jawa Tengah bukan apa-apa. Hanya provinsi terpinggirkan yang kerap dipandang sebelah mata. Bahkan banyak orang cenderung malu untuk sekedar mengaku berasal dari Jateng.

Belum lagi urusan birokrasinya yang berbelit-belit, tidak transparan, dan pungli yang seperti hantu siang malam karena ada dimana-mana. Cuma satu yang mencolok dari Jateng, ia produsen terbanyak anak putus sekolah. Memang miris.

Namun kini, secara perlahan tapi pasti, citra buruk yang menempeli nama Jateng satu persatu rontok.

Saya punya banyak teman di Jateng, dan mereka rata-rata bangga memiliki sosok gubernur seperti Ganjar, sosok pemimpin pembaru, yang kini dikenal seantero negeri.

Tentu bukan karena sulapan Ganjar dikenal dan dicintai rakyatnya. Ada keringat yang ia teteskan. Dengan tangan dinginnya, Ganjar mengubah citra buruk birokrasi Jateng yang tadinya manja, lelet dan mriyayi, menjadi mudah, cepat dan tepat.

Bisa dibilang Ganjar memang out of the box. Ia berbeda jika dibandingkan pemimpin-pemimpin di daerah lain. Tuanku ya rakyat, gubernur cuma mandat. Mana ada seorang pemimpin yang berani mendeklarasikan diri sebagai pelayan rakyat? Kalau gak percaya silakan cari saja.

Layaknya pelayan, ia mesti cekatan dan punya segudang cara untuk menyelesaikan persoalan. Misalnya. Ketika banyak orang cuma memanfaatkan sosial media untuk urusan personal, Ganjar berani melompat dengan memanfaatkan sosial media untuk bekerja.

Banyak pejabat yang awalnya kelabakan mengikuti ritme kerja Ganjar. Mereka ngedumel karena tidak terbiasa dan tidak bisa. Belum lagi mereka juga dituntut harus melek digital. Tentu tidak sedikit pula yang awalnya meragukan inovasi dan keberanian Ganjar. Alih-alih mendukung atau memberi masukan, mereka justru nyinyir dan meragukan konsistensi gubernur rambut putih ini.

Itu sama persis seperti yang dialami Coach Carter, seorang pelatih basket yang inspiratif dan menyentuh. Carter mengawali kariernya sebagai pelatih klub basket SMA Richmond, sebuah sekolah di negara bagian Virginia, yang berisi banyak berandalan.

Sekolah itu memang terkenal buruk dan payah, bahkan setiap tahun hanya bisa meluluskan 50 persen siswanya. Ketika dia nekad jadi pelatih dan ingin mengubah semua itu, banyak sekali yang mencemooh. Bahkan tidak sedikit yang memperlakukan dia dengan buruk.

Bukannya mundur, Coach Carter justru merasa tertantang untuk membuktikan bahwa dia mampu menyusun kekuatan dari anak-anak yang dicap brandalan itu. Dan ia berhasil. Akhirnya SMA Richmond menerima sebuah keajaiban. Para brandalan itu jadi juara. Sekolah itu jadi disegani, bahkan turut mengantar atlet didiknya mendapat beasiswa hingga bisa melanjutkan ke perguruan tinggi ternama. Carter berhasil mengubah para berandalan menjadi manusia yang punya masa depan gemilang.

Ganjar juga sama saja. Ia menjadikan birokrasi Jateng yang tadinya buruk jadi punya banyak inovasi. Pelayanan serba cepat. Kalau ada masyarakat yang dipersulit dalam mendapatkan pelayanan, silakan saja laporkan pasti langsung direspon.

Hampir setiap sektor punya program-program unggulan. Untuk sektor pembangunan sumberdaya manusia misalnya. Ganjar melahirkan SPP gratis dan pendidikan unggulan gratis untuk siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu. Mereka semua menerima fasilitas yang sangat memadai. Penginapan, biaya makan, seragam, buku, lanoratorium dan lain-lain juga ditanggung pemprov.

Belum lagi adanya program Sekolah Virtual yang dikhususkan bagi siswa putus sekolah yang ingin melanjutkan pendidikan lagi. Mereka tak dipungut biaya sepeserpun. Malah dapat perlengkapan seperti ponsel dan paket data internet.

Di tangan Ganjar, APBD Jateng yang hanya Rp. 24 triliun pertahun, tidak ada separonya dari Jakarta, digulirkan dengan tepat sasaran dan sangat dirasakan manfaatnya.

Infrastruktur dibenahi. Petani, nelayan, para pelaku usaha semua diperhatikan. Belum lagi jutaan rumah tak layak huni milik warga yang telah direnovasi selama kepemimpinannya. Bahkan karena kecapakannya dalam memimpin, sekarang nyaris tak ada warga yang malu untuk menyebut dirinya dari Jawa Tengah. Termasuk kawan-kawan saya.

Ya, itulah sekelumit kisah tangan dingin Ganjar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker