Opini

I am Batam: Bangga Jadi Orang Batam

Saya gembira sekali diajak rekan-rekan pengurus PWI Kepri di bawah komando Bang Candra Ibrahim beraudiensi dengan Haji Muhammad Rudi, tadi pagi, Senin (29/11).

Ketua Candra memperkenalkan saya sebagai pengurus PWI Pusat. Tapi sebenarnya saya lebih senang disebut sebagai orang Batam saja.

Orang Batam sekarang sedang ngefans dengan walikotanya, yang juga Ketua BP Batam itu. Cinta masyarakat pada pemimpin, tak lain tak bukan, buah cinta dari pemimpin yang mengasihi masyarakatnya.

Tak ada hijab dalam cinta model begini. Tak ada syarat-syaratan. Tak ada ilmu hitam. Orang Batam bukan Roro Jonggrang. Orang Batam menolak janji candi semalam. Walau dibangun seratus jin kontraktor sekalipun.

Rudi hari ini tidak mendatangi warga Batam dengan proposal Bandung Bandawasa. Ia hadir dengan kerja, kerja, kerja.

Bandar Batam ini sudah tua. Hampir 200 tahun usianya. Orang Batam kenyang asam garam muslihat rayuan.

Orang Batam hanya mau kampung halamannya, pulau tumpah darah anak cucu mereka, punya alasan sempurna untuk memenuhi paling tidak tiga kebutuhan dasar sekaligus: dihuni, dicintai, dan diperkenalkan ke segenap handai taulan di luar sana.

Kebetulan, dari masa ke masa, program terobosan infrastruktur Rudi yang sejauh ini dipandang lumayan berhasil menyederhanakan tiga kemewahan di atas ke dalam satu bahasa: kebanggaan.

Sudah lama kita tak merasa bangga menjadi orang Batam. Kinerja Pemerintah Kota Batam bersama stakeholder 6-7 tahun terakhir membangkitkan lagi rasa bangga itu.

Kota terlihat indah. Memanggil-manggil siapa saja untuk singgah. Di atas segalanya, kota kini menjadi alasan terbaik untuk cepat-cepat pulang ke rumah, memeluk keluarga.

Tentu saja pencapaian tersebut terlalu pagi dianggap prestasi. Ia baru teramat pantas untuk diingat, dicatat, sebagai sebuah reputasi.

Rudi bahkan bukan walikota yang akan kita kenang dengan reputasi seorang orator memukau, misalnya.

Reputasi Haji Muhammad Rudi adalah keberanian, kegilaan menerabas pelbagai formalitas beku, bergerak, bertindak, dengan semacam keyakinan bahwa kepala daerah sesungguhnya hanya memiliki satu modal kecil tapi teramat besar nilainya: iktikad baik (goodwill).

Rudi mampu karena mau.

Produk-produk pers berkualitas perlu ditebar untuk mengapresiasi kinerja mumpuni yang diperlihatkan Rudi.

Tentu tak perlu buru-buru mabuk kepayang menyematkan kata ‘prestasi’ ke dada pemangku kepentingan. Cukup tulis ‘reputasi’ saja.

Prestasi sering mengundang salah tafsir. Bila kubu satu memaknai prestasi sebagai ke-benar-an, di mata kelompok lain prestasi bisa dipandang hanya suatu ke-betul-an. Habis energi mengurus debat tak penting.

Pers Batam bisa menawarkan, mendialogkan, secara terus-menerus, beragam agenda publik yang terinspirasi dari reputasi Pemimpin Kota Batam yang sungguh-sungguh membenahi infrastruktur negerinya. Misalnya dengan mengkampanyekan tagline ‘Bangga Jadi Orang Batam’ atau ‘I am Batam’.

Tapi bahkan dalam ilmu jurnalistik memujipun ada seni-nya. Harus ada peluh verifikasi yang berdarah-darahnya.

Karya jurnalistik yang ‘malas’, yang bukan mewakili suara rakyat, hanya akan terdengar bagaikan suara telur diangkat-angkat. Tulisan jenis ini rentan pecah karena kualitas jatuh.

Syahdan, kata ‘fans’ diserap dari Bahasa Italia, ‘fantacio’, artinya: gila-gilaan. Saya hari ini bersyukur Tuhan mengirim ‘orang gila’ bernama Rudi untuk mengurus Batam.

Saya kira Pers Batam juga tak berlebihan nge-fans gila-gilaan dengan Pak Rudi. Kalau doi lagi bagus, pujilah dengan tulus. Kalau tergelincir, ramai-ramai kita jewer.

(Ramon Damora, Pengurus PWI PUSAT)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker