Sosok Sabam Sirait di Mata Yasonna Laoly
PRIMETIMES.ID-
1 September lalu, saya bersama-sama teman-teman, adik, dan kader Bang Sabam Sirait berdoa bersama meminta kesembuhan atas sakit yang diderita senior kami ini. Berselang dua pekan sesudahnya, saya sempat berbicara dengan Bang Sabam lewat telepon. Saya sampaikan bahwa kami adik-adiknya masih membutuhkan kehadiran beliau.
Namun Tuhan berkehendak lain. Tadi malam (29/9/2021), abang yang saya hormati ini menghembuskan nafas terakhir di usia yang penuh berkat, 85 tahun.
Kehilangan? Pasti. Tapi saya imani abang saya sudah bersama Bapa di sorga.
Bang Sabam adalah sosok yang istimewa dalam hidup saya. Sejak mahasiswa, saya sudah kerap bertemu dan berdiskusi dengan beliau. Di GMKI beliau adalah sosok terhormat. Saya sebagai junior selalu menganggap Bang Sabam sebagai guru.
Karir politik saya bisa di posisi saat ini, tak lepas dari campur tangan Bang Sabam.
Bang Sabam mendorong saya untuk menjadi anggota DPRD di Sumatera Utara. Bang Sabam juga yang memecut saya untuk menjadi anggota DPR RI. Saya masih ingat ketika Bang Sabam menelepon Pak Taufik Kiemas almarhum. Beliau mempromosikan saya pada Pak Taufik. Kurang lebih beliau berkata: “ini ada adek saya doktor dari Amerika, sekarang DPRD, di periode berikut kita bantu dia jadi DPR RI ya”.
Telepon ini bersambut baik, saya masuk daftar caleg di Sumut I dengan nomor urut 2 dan terpilih.
Telepon Bang Sabam juga yang membukakan pintu bagi saya untuk dekat dengan Pak Taufik. Beliau berdua dan tentunya Ibu Ketua Umum adalah guru politik terbaik buat saya.
Jika Pak Taufik selalu berkata bahwa menang itu tak perlu sampe membuat lawan menderita, Bu Mega selalu mengajarkan keutuhan NKRI dalam bingkai kebhinnekaan, Bang Sabam selalu mengajarkan bahwa politik itu suci, kalaupun politik ternoda karena orangnya/pelakunya berpolitik. Politik itu adalah keberpihakan pada rakyat kecil. Itulah ajar dari Bang Sabam, Pak Taufik, dan Bu Mega yang selalu saya pegang.
Sebenarnya caption di satu feed instagram tak cukup menceritakan sosok Bang Sabam, namun biarlah cerita lainnya saya kenang dalam memori.
Selamat jalan abangku, selamat jalan tokoh bangsa. Kami kehilangan tokoh gereja dan tokoh Kristen berpengaruh.
(Yasonna Laoly)



