Kena Prank Pak Tua
Kena Prank Pak Tua
Oleh: Birgaldo Sinaga
Entah kenapa hari ini saya merasa jadi orang terbodoh sedunia. Sampai saya sakit perut saking lucunya. Menertawakan diri saya sendiri.
Kemarin pagi, saya olahraga jalan kaki seputaran Tebet. Setiap pagi saya jalan kaki dengan rute yang sama selama 1 jam lebih.
Seorang laki-laki tua terlihat duduk di emperan depan kios yang tutup dekat Pasar Tebet. Setiap pagi saya melihatnya. Saban saya jalan kaki, Pak Tua itu duduk termangu sambil memegang koran. Ia menjual koran. Tidak banyak. Hanya 10 examplar saja. Ada dua koran nasional.
Saya selalu menyapa Pak Tua ini saban melewatinya. Ia duduk tenang. Tanpa ekspresi. Wajahnya datar. Pandangannya fokus lurus menatap depan jalan. Bajunya hanya itu. Seminggu lalu ia memakai kaos biru berkerah. Ia memakai topi. Sandal jepit. Dan celana krem tua yang sudah memudar warnanya.
Pagi ini saya bertemu lagi dengannya. Ada gurat wajah lara terlihat dari matanya yang sayu. Tatapannya lurus. Kosong. Entah apa yang dipikirkannya.
Saya menyapa Pak Tua itu. Entah mengapa tadi pagi saya ingin mengajaknya bicara. Mau tahu apakah Pak Tua ini sudah sarapan apa belum. Atau sedang sakit.
“Selamat pagi, Pak..”, sapa saya lembut.
Pak Tua ini tersenyum ramah.
“Jualan koran pak? Sudah berapa laku sampai jam 8 pagi ini?” tanya saya membuka obrolan.
“Baru satu, Om..”, ujarnya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong atas bawah.
“Sejak jam berapa jualan di sini?” tanya saya lagi.
“Dari jam 6, Om..pulang jam 10,” jawabnya.
“Boleh cerita, om? Begini, Om.. tadi malam istri saya meninggal dunia. Ia jatuh di sumur karena matanya sudah gak bisa melihat lagi. Istri saya tinggal di Sukabumi. Saya diminta pulang. Tapi duit saya gak ada, Om. Tadi sampai terantuk kepala saya mikirkan gimana bisa pulang,” ceritanya.
Saya mendengarkan dengan simpati. Pak Tua ini terus bercerita panjang. Ia mengaku bernama NS. Sudah menikah selama 50 tahun. Tapi tidak punya anak. Istrinya bernama SR.
Pak NS di Jakarta tinggal di Bukit Duri. Ia warga DKI. Ia memperlihatkan KTPnya pada saya. Ia juga punya kartu Lansia. Ia mengaku sudah 4 bulan tidak menerima santunan lansia sebesar 600 ribu perbulan dari Pemprov DKI. Rekeningnya kosong.
Pak NS terus bercerita tentang kesedihannya. Ia ingin sekali menguburkan jenazah istrinya di Sukabumi. Ia ingin pulang. Melihat wajah istrinya untuk terakhir kali.
“Tapi gimana, Om…Saya gak punya ongkos,” ujarnya dengan mimik muka sedih.
“Berapa ongkos ke Sukabumi, Pak,” tanya saya.
“200 ribu, Om. Dari sini naik Bajaj ke Stasiun Kereta Tebet, lalu ke Bogor. Dari sana ke Sukabumi naik angkot,” ujarnya.
“Oh ya udah, Pak. Bapak tunggu di sini. Saya pulang sebentar ambil duit. Kebetulan gak bawa dompet. Tunggu ya,” ujar saya sambil bergegas kembali ke rumah.
Lalu saya jalan cepat pulang. Sesampai di rumah, saya ambil dompet. Langsung balik ke tempat Pak NS nongkrong.
Dari jauh saya lihat Pak NS masih duduk diam. Saya samperin. Ia menyambut dengan senyum hangat.
“Nah ini duitnya, Pak. 200 ribu ya..Saya tambahin lagi ini buat jajan. Langsung pulang ya,” ujar saya sambil wanti-wanti agar Pak NS tidak bohongi saya.
Pak NS senang. Ia menerima dengan gembira pemberian saya. Ia bangkit berdiri.
Saya mengantarnya ke pangkalan bajaj yang tidak jauh dari sana. Kami berpisah.
Saya berharap Pak NS bisa menguburkan jenazah istrinya dengan baik. Itu saja.
Hari ini, Pukul 08.00 WIB.
“Lha..Pak NS..kok masih di sini. Katanya pulang ke Sukabumi menguburkan istrinya,” ucap saya dengan nada terkejut.
Bagaimana tidak terkejut setengah mati. Pagi ini saya masih melihatnya nongkrong di tempat yang sama. Dengan baju dan celana yang sama. Dengan ekspresi yang sama.
“Anu, Om. Saya langsung pulang jam 3 pagi, Om. Diantar naik motor dari Sukabumi,” balasnya dengan ekspresi datar.
Busyettt dah. Gua kena tipu nih.
Lalu, Pak NS cerita panjang kali lebar sepanjang Sungai Bengawan Solo. Saya hanya terdiam. Memandang wajah tuanya. Entah apa yang dibicarakannya. Saya melihat bola matanya tajam. Tanpa sedikitpun menyela ceritanya.
Ceritanya sudah aneh dan ngawur. Merembet kemana-mana. Ia mengaku pernah jadi Pegawai Negeri Sipil. Lalu keluar karena gaji kecil. Lalu jadi kuli angkut. Dan entah apa lagi.
Saya mendengarkan tanpa berkedip. Mau marah kok gak tega sama orang tua.
“Ya uwis, Pak…Tetap semangat ya..Saya lanjut olahraga dulu,” ujar saya sambil menepuk pundaknya.
“Iya, Om..Makasih, Om”, balasnya sambil tertawa.
Sepertinya Pak Tua ini menertawakan saya yang sudah berhasil dipranknya.
Ahh..Ya sudahlah…Terkadang kehadiran kita memang untuk dibodohi agar ada orang bisa makan dan hidup.
Rezeki itu kayak cukur kumis. Dipotong lalu tumbuh lagi esoknya. Sing sabar aja.
(Birgaldo Sinaga)



