Seputar Kepri

Super Kreatif! Mahasiswa Ini Ubah Air Hujan Layak Langsung Minum

Melky dan timnya. (Photo: Blt)

PRIMETIMES.ID, Tanjungpinang-Bermodalkan tekad dan semangat tim, empat orang pemuda ini berhasil mengubah air hujan siap untuk diminum.

Mereka adalah Welky Marpaung, Rohani Siagian, Mikel Panjaitan dan Jessen, mahasiswa Umrah yang ikut pada lomba inovasi dan pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) Provinsi Kepri 2019, di halaman Ramayana, Tanjungpinang, 9-11 Juli 2019.

Karya inovasi dengan judul “Implementasi solar panel untuk produksi air minum dari air hujan dengan proses elektrolisa” akan berkompetisi dengan 30 kompetitor perwakilan se-Kepri.

Tim dalam lomba TTG yang diketuai oleh Welky, menerangkan bahwa karyanya merupakan inovasi terbaru.

“Kami menggunakan teknologi surya,” ujar Welky, Rabu ( 9/7/2019).

Welky mengatakan, sebelumnya hal seperti ini sudah pernah ada, namun tidak menggunakan teknologi surya. Dengan adanya temuan ini, air hujan pun dapat dimanfaatkan. Sebab, kandungan air hujan lebih baik. Hal itu berdasarkan penelitian mereka di laboratorium.

“Berdasarkan uji laboratorium, tim kita bersama dosen pembimbing menemukan kondisi PH air hujan lebih tinggi dari kadar air biasanya, sehingga layak dikonsumsi,” terang Welky.

Jika diterima ini jadi hak cipta, kami akan lakukan pengembangan ke rumah-rumah. Jadi setiap air hujan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” lanjutnya.

Alat ini sangat sederhana dan berbiaya murah. Tim menyakini bahwa rumah-rumah nantinya juga bisa menggunakan.

“Sedikitnya untuk dapat memperoleh alat ini, kita mengeluarkan biaya hingga Rp 300 ribu,” ujar Welky.

Adapun proses kerja dari alat ini menggunakan panel surya dan air hujan sebagai sumber utama. Panel surya bekerja untuk menghasilkan energi listrik yang dibutuhkan untuk proses elelektrolisa.

“Proses elektrolisa terjadi karena adanya reaksi kimia dengan adanya energi dari arus listrik. Dalam proses elektrolisa, katoda merupakan kutub negatif dan anoda merupakan kutub positif. Arus listrik menghantarkan ion positif yang bergerak ke negatif,” ujar Welky menjelaskan.

Selanjutnya, kata Welky, proses elektrolisa ini memecahkan kandungan H20 yang ada pada air hujan menjadi 2H2 +O2. Proses elektrolisa berlangsung sekitar 45 menit/liter pada galon yang saling terhubung.

“Alat ini sangat bermanfaat, sederhana, mudah diduplikasi dan sangat mudah diaplikasikan di tiap rumah masyarakat,” pungkas Welky.

Red

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker