Satu Doa untuk Ganjar Pranowo
Oleh: Sobar Harahap
#DoaUntukGanjar jadi trending topik di Twitter saat hari ulang tahun ke-54 Gajar Pranowo yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2022. Cuitan-cuitan yang muncul kebanyakan tentang ucapan selamat ulang tahun.
Mungkin belum banyak yang tahu kalau sebenarnya nama aslinya adalah Ganjar Sungkowo. Artinya karunia pascakemalangan. Namanya diubah gara-gara Ganjar kecil sering menangis dan sakit-sakitan.
Bagi orang Jawa, nama memang punya pengaruh dalam perkembangan anak. Kemudian orang tua Ganjar sowan ke sesepuh di kaki Gunung Lawu di bilangan Tawangmangu. Sesepuh itu yang mengganti nama Suwono menjadi Pranowo.
Sosok Ganjar Pranowo yang kini tampak tinggi gagah ternyata sudah melewati tempaan luar biasa sejak kecil.
Ganjar lahir dari keluarga biasa. Dia lahir dari rahim Sei Suparni di Tawangmangu, Kabupaten Karganyar, 28 Oktober 1968. Ganjar kecil sudah terbiasa berjuang untuk sekadar menyambung hidup. Ayahnya, Parmudji Pramudi Wiryo memang seorang polisi. Pangkatnya letnan satu. Dia sering pindah tugas. Jadi, Ganjar dan kelima saudaranya kerap pindah-pindah rumah, mengikuti penempatan tugas ayahnya.
Ketika Ganjar duduk di sekolah dasar, keluarga ini berpindah ke Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.
Karena ayahnya hanya polisi pangkat rendah, Ganjar dan saudaranya hidup sederhana. Gajinya pas-pasan. Buat makan pun juga dipas-paske. Wong mi instan plus telur saja sudah tampak mewah. Soalnya menu itu hanya bisa dimakan setelah ayah Ganjar gajian. Ya, Ganjar kecil memang sudah biasa prihatin. Makanya, tidak heran kalau sekarang Ganjar suka perhatian dengan warga kecil dengan memberikan seabrek program-program pengentasan kemiskinan.
Kepribadian Ganjar makin matang remaja. Dia nekat merantau ke Jogjakarta dan sekolah di SMA Bopkri 1 yang dikelola Yayasan Kristen. Meski berlatarbelakang keluarga muslim taat, Ganjar tidak keberatan bersekolah di yayasan Kristen.
Lepas SMA, Ganjar diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dia memilih Fakultas Hukum. Bisa kuliah di UGM ini bukan karena Ganjar sudah punya uang. Biaya pendaftarannya harus ditukar dengan menggadaikan sertifikat rumah ke bank.
Di bangku kuliah ini, Ganjar ditempa makin keras. Ada tradisi kampus kala itu yang mengharuskan mahasiswa mengikuti program penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) seratus jam. Ini materi penataran yang wajib dilalui oleh para mahasiswa, kurang lebih selama dua pekan.
Penataran P4 merupakan program pemerintah Orde Baru untuk memasyarakatkan Pancasila yang mulai digagas sejak 1978. Sebagai program nasional, kala itu pemerintah membentuk suatu badan pusat yang mengoordinasi seluruh kegiatan tersebut secara menyeluruh. Badan itu dikenal dengan BP7.
Di semester pertama kuliah, Ganjar ikut pecinta alam untuk mengisi kesibukan. Dari organisasi itu, Ganjar banyak kenal dengan orang-orang GMNI. Dan akhirnya Ganjar tertarik gabung dengan GMNI. Di masa-masa itu, Ganjar mulai tertarik untuk turut dalam aksi turun ke jalan, berunjuk rasa menentang ketidakadilan. Mulai isu-isu lokal hingga nasional, salah satunya terkait dengan proyek Waduk Kedung Ombo yang dibangun di perbatasan tiga Kabupaten Grobogan, Sragen, dan Boyolali.
Setelah itu, Ganjar mulai menunjukkan minat kepada dunia politik. Sebagai aktivis, dia bergabung di Gerakan Demokrat Kampus alias Gedek. Saat itu Gedek membuat gerakan bernama “Bangkit”. Mereka memakai kaos putih, bergambar Bung Karno warna merah, bertuliskan “Bangkit” dan “Generasi Demokrat Kampus”. Gerakan ini dimotori oleh politisi PDI Soetardjo Soerjogoeritno.
Merasa punya bekal di kancah politik, Ganjar memutuskan bergabung dengan PDIP. Dia pun nekat mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI pada 2004. Ganjar terjun ke dunia politik dengan modal kesederhanaan, budi pekerti luhur dan nilai-nilai idealisme untuk berbuat sesuatu bagi bangsa dan negara. Di DPR RI, Ganjar ditugaskan di Komisi IV yang membidangi pertanian, lingkungan hidup dan kehutanan, juga kelautan. Ganjar juga duduk di Badan Legislasi DPR RI (2004-2009). Pada 2007, ia didaulat sebagai Ketua Pansus RUU tentang Partai Politik. Tahun yang sama Ganjar juga menjadi Ketua Pansus Khusus RUU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD.
Ganjar kembali terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pileg 2009. Pada periode kedua keberadaannya di DPR RI, Ganjar menempati posisi sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR RI yang membidangi Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kepemiluan, Pertanahan dan Reformasi Agraria. Ganjar juga bertugas sebagai Anggota Pansus Angket Bank Century, Tim Pengawas Century di DPR RI, dan mengawal Undang-Undang Desa.
Belum selesai masa jabatannya menjadi anggota DPR RI, Ganjar mendapat tugas dari partai untuk nyalon Gubernur Jateng periode 2014-2019. Waktu itu, Ganjar dipasangkan dengan kader PDIP lain, Heru Sudjatmoko. Pasangan ini menang perolehan suara 48,82 persen. Kemenangan Ganjar itu membuatnya menjadi Gubernur Jawa Tengah pertama yang berasal dari kalangan sipil. Ketegasan serta kecerdasan Ganjar dalam membaca keinginan publik jadi modal penting untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Jawa Tengah. Salah satunya dengan melahirkan slogan Mboten Korupsi, mboten ngapusi.
Untuk membuktikannya, Ganjar langsung membongkar praktik pungli di jembatan timbang Subah Batang. Bahkan kemarahannya di jembatan timbang yang menghebohkan itu, menjadi sumber harapan masyrakat Jawa Tengah untuk hadirnya sebuah perbaikan di segala sektor. Peristiwa di jembatan timbang Subah itu jadi titik revolusi pemerintahan Jawa Tengah. Karena semenjak itu, seluruh jajarannya menjadi paham, gubernur berambut putih ini tidak bisa diajak main mata.
Dengan begitu, seluruh pegawai di Pemprov Jateng kerja dengan intensitas yang sangat tinggi. Para ASN Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Ganjar mulai berubah. Produktivitas mereka pun meningkat. Tidak heran jika infrastruktur gencar dilakukan dengan tanpa adanya potongan atau jatah preman untuk orang pemerintahan. Jalan, pasar, rumah-rumah tidak layak huni sampai bandara dia kejar pengerjaannya. Karena bagi Ganjar, infrastruktur jadi kebutuhan primer dalam rangka perbaikan kualitas kehidupan masyarakat. Karena jika perjalanan lancar, apapun akan ikut lancar.
Ganjar juga melahirkan SMKN Jateng. Sebuah sekolah dengan sistem asrama yang dikhususkan bagi pelajar dari keluarga tidak mampu. Tidak ada pungutan biaya apapun. Bahkan mereka juga mendapat seragam gratis, buku, makan, Tempat tinggal sanpai fasilitas laboratorium terpadu. yang bikin banyak orang kagum, semua lulusan SMKN Jateng langsung diterima kerja pada perusahaan-perusahaan ternama. Bahkan mereka sudah diterima kerja sejak sebelum diwisuda. Inilah cara Ganjar dalam menuntaskan kemiskinan dalam jangka panjang.
Di periode kedua yang dipasangkan dengan Taj Yasin Mainoen, Ganjar menggagas program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng). Program ini didasari dari keprihatinannya melihat tingginya angka stunting dan kematian ibu melahirkan di awal masa jabatannya. Melalui program 5Ng ini, Ganjar ingin menekan angka stunting dan angka kematian ibu melahirkan sejak dalam kandungan.
Tapi dari seluruh program yang sudah Ganjar lahirkan itu, yang paling banyak dirasakan manfaatnya oleh warga Jawa Tengah adalah kemudahan dalam melaporkan segala macam persoalan kepada gubernurnya. Bukan cuma sebatas kepada bupati atau kepala dinas. Bahkan seluruh warga Jawa Tengah merasa lebih mudah menghubungi gubernurnya dibanding kepala desa ataupun bupati.
Hal itu bisa terjadi karena Ganjar memanfaatkan betul media sosial. Bahkan bagi Ganjar, media sosial sudah menjadi ruang kerja. Tempat menerima aduan sekaligus melaporkan apa yang dia kerjakan. Dengan kemudahan dan keterbukaan komunikasi dengan gubernur, menjadikan warga Jawa Tengah semakin percaya diri. Padahal kita semua tahu, kepercayaan diri jadi modal besar untuk melahirkan sebuah perbaikan keadaan.
Semua program-program Ganjar yang digagas sejak jadi anggota DPR RI hingga Gubernur Jawa Tengah, tidak lepas dari pengalaman masa lalunya. Semua pekerjaannya digarap serius demi rakyat. Jadi sudah pantas kalau Ganjar bertugas di tempat yang lebih besar.
Lantas, apa doamu untuk Ganjar Pranowo yang berulang tahun di Hari Sumpah Pemuda ini?



