Opini

Di Usia Tiga Perempat Abad, Harapan Saya Semakin Sederhana, Hidup Bahagia, Punya Bonding Dan Kekompakan yang Semakin Kuat Dengan Keluarga

Oleh: Luhut Binsar Pandjaitan
Setiap kali pertambahan usia saya lewati, saya selalu teringat ibu dan ayah yang telah membesarkan dan mendidik saya serta adik-adik dengan prinsip dan karakter.

Sebagai anak tertua dalam keluarga, wajar rasanya jika saya punya sikap yang cukup tegas terhadap pendirian dan disiplin karena harus menjaga adik-adik saya yang semuanya adalah perempuan.

Sikap itu terus terbawa sampai saya menjadi suami, ayah, bahkan kakek seperti sekarang.

Nasihat yang sering saya sampaikan kepada mereka yaitu, wujud rasa syukur terbaik adalah mengabdi kepada mereka yang menyayangi dan mendidikmu dengan sepenuh hati. Kalian dibesarkan, disekolahkan semata-mata bukan untuk saat ini saja, tetapi untuk di masa depan. Ketika kalian sudah tak ada lagi di dunia ini, apa yang akan kalian tinggalkan sebagai warisan?

Maka dari itu, jadilah manfaat dan berkat yang banyak bagi seluruh manusia.

Nasihat itu pula yang menjadi semangat bagi saya untuk mempersembahkan pengabdian terbaik bagi negeri ini.

Kalau boleh jujur, selama karir saya di militer sampai beberapa kali menjadi pejabat publik meskipun tidak dalam waktu yang lama, baru di masa pemerintahan Presiden Jokowi saya mampu mengabdi kepada republik ini secara konkrit.

Ini semua karena saya merasa diberikan kepercayaan dan kesempatan yang begitu besar untuk menyalurkan talenta dan kemampuan terbaik selama 8 tahun lamanya oleh pimpinan saya, Presiden Joko Widodo.

Karenanya, saya amat bersyukur karena semesta dan Tuhan Yang Maha Esa memberikan Presiden Joko Widodo untuk Republik Indonesia. Rasa syukur itu lah yang memotivasi saya untuk menjalankan misi dan pengabdian ini sampai tuntas sehingga masa kepemimpinan beliau saat ini akan meninggalkan “legacy” serta standar kepemimpinan yang jauh lebih baik bagi pengganti beliau kelak.

Menginjak usia tiga perempat abad, harapan saya semakin sederhana. Hidup bahagia, punya “bonding” dan kekompakan yang semakin kuat dengan keluarga rasanya sudah cukup. Apalagi di tengah ancaman krisis global seperti ini di mana ketahanan keluarga harus terus diperkuat.

Bukankah jika unsur terkecil dalam sebuah negara ini kokoh, maka negara tersebut akan tangguh menghadapi segala macam tantangan dan ancaman ?

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker