Payung Cinta Jokowi di Sumba
Oleh: Birgaldo Sinaga
Di Sumba Tengah, NTT, awal Maret lalu, Presiden Jokowi datang disambut hujan deras. Rombongan Presiden Jokowi tiba di persawahan itu juga diiringi hujan deras.
Langit menghitam. Awan menebal. Kilat dan petir bersahut-sahutan. Hujan turun dengan derasnya. Hujan deras tersebut tidak membuat warga desa itu berlarian mencari tempat berteduh. Mereka tetap berdiri, menunggu Jokowi.
Jokowi turun dari mobil. Ia memegang payung hitam. Dengan tenang Jokowi membelah pematang sawah. Ia berjalan sendirian ke arah petani yang berjarak sepelemparan batu.
Paspampres tidak menyangka Panglima Tertingginya berjalan ke tengah sawah. Paspampres tampak pontang-panting berlari mengejar Jokowi. Jokowi tetap melangkah tenang di tengah hujan deras yang membasahi bumi. Sendirian saja. Tanpa pengawalan.
Baju putih lengan panjang yang dikenakannya tampak basah terpercik air hujan.
Di ujung sana, para warga desa bertepuk tangan, bersorak memanggil nama Jokowi. Mereka senang sekali.
Di lahan sawah menghijau itu, ada ratusan petani sedang menunggu kedatangan Jokowi.
Mereka, para warga desa yang tadinya hidup sebagai petani musiman di desanya. Setelah bendungan dibangun, mereka bisa menanam padi tanpa takut kekeringan.
Sebelumnya, sejak pagi warga desa sudah berduyun-duyun menunggu kedatangan Jokowi. Mereka berdiri di pematang sawah. Mereka berkelompok di ujung sawah tidak jauh dari tempat lokasi panggung Jokowi bersama pejabat Pemda NTT.
Tidak lazim seorang presiden memegang payungnya sendiri. Biasanya ada ajudan yang memayunginya. Tapi Presiden Jokowi memang berbeda. Ia bersikap biasa saja di depan rakyatnya.
Ia tidak membuat jarak. Jokowi tidak menunjukkan kasta dan level seorang penguasa di sana. Ia seperti pelayan sejati. Mendatangi rakyatnya seorang diri. Dengan sebuah payung di tangannya.
Mungkin sepanjang sejarah Indonesia, baru ini kali pertama seorang presiden berjalan sendirian menemui rakyatnya dengan payung di tengah hujan deras.
Payung itu sesungguhnya bukan sekadar payung biasa. Bukan sekadar payung untuk melindungi tubuh Jokowi dari air hujan. Bukan sekadar mencitrakan presiden sebagai sosok pelayan rakyat. Namun, ada pesan kebangsaan yang hendak disampaikan Presiden Jokowi.
Payung yang dipegang Presiden Jokowi itu menegaskan bahwa orang NTT dipayungi cinta mendalam dari seorang Jokowi. Cinta yang tulus.
Rakyat NTT kini seperti anak kandung yang didatangi ayah kandungnya sendiri. Setelah sekian lama dianaktirikan. Seperti seorang ayah mengejar anaknya yang kehujanan. Memberi payung agar tidak basah dan kedinginan. Memeluknya. Mendekapnya. Agar hangat tubuhnya.
NTT tidak lagi kekeringan dan terlupakan. Dan, itulah jaminan Presiden Jokowi. Jokowi membangun embung, waduk hingga sumur bor agar air bisa mengalir ke persawahan petani. Petani NTT hidup sejahtera. Tidak miskin lagi.
Momen Jokowi berjalan sendirian di pematang sawah adalah pesan humble dan hormat Presiden Jokowi. Jokowi tidak banyak bicara untuk merangkul anak bangsa di Indonesia Timur itu.
Jokowi tak banyak memberikan nasihat bagaimana cara untuk setia pada Pancasila dan Merah Putih. Jokowi veni, vidi, vici.
Jokowi datang, melihat, dan memenangi hati rakyat NTT. Memenangi bukan dengan pintarnya mengolah kata-kata. Jokowi memenangi dengan memanusiakan orang Sumba Tengah tanpa banyak kata-kata. Ngewongke.
Jokowi merangkul mereka agar berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Membangun apa yang mereka perlukan. Apa yang mereka butuhkan. Kesetiaan negara untuk memajukan bumi NTT akan membuat orang NTT serasa anak kandung republik.
Selamat, Pak Presiden Jokowi. Kami bangga dan hormat padamu. Kesetiaanmu untuk rendah hati dan menjadi bapak bagi semua anak bangsa benar-benar menyentuh batin terdalam kami.
Salam bangga sebagai orang Indonesia.
(Birgaldo Sinaga)



